CERPEN : UANG

Kalian tidak akan pernah membayangkan betapa menderita menjadi aku. Kalian pun tidak akan pernah mengharapkan semua perjalanan kehidupan yang pernah aku lewati. Hidupku merupakan sebuah petualangan tanpa akhir, setidaknya itu menurutku. Hidupku juga merupakan sebuah perjalanan tanpa henti.

Aku bertemu banyak hal dan aku melalui berbagai hambatan yang mungkin tidak pernah kalian sadari. Aku menyaksikan kebahagiaan paling indah yang terjadi di dunia ini. Namun aku juga pernah menghitung tiap detik di tempat yang penuh dengan rasa sakit dan kebencian.

Aku adalah figur yang tidak pernah membedakan latar belakang seseorang. Gelendangan yang mungkin biasa kalian temukan di sudut jalan adalah teman-temanku. Pengemis yang biasa kalian berikan “uang kecil” merupakan salah satu kerabatku. Jangan memandangku dari siapa aku bergaul, sebab orang nomor satu di negara kalianpun memiliki hubungan kekerabatan khusus denganku. Aku yakin setengah dari kalian tidak akan mempercayainya, tapi memang begitulah kehidupanku dan beberapa temanku. Kami membaur dan bertemu banyak orang tanpa memikirkan perbedaan mereka.

Aku ingat ketika aku bertemu dengan temanku Gabon, nama yang unik bukan? Biar aku tebak! Kalian pasti membayang sosok sangar yang begitu mengerikan. Jika iya, berarti tebakan kalian sangat tepat. Gabon adalah sosok preman yang paling ditakuti di kawasan ini. Dia selalu meminta jatah “iuran keamanan” kepada para pedagang di beberapa pasar tradisional ibu kota. Jika tidak membayar iuran yang dimaksud maka bersiaplah untuk bangkrut, karena Gabon akan menghancurkan toko atau kios para pedagang yang bersangkutan hingga menjadi debu. Gabon dan anak buahnya juga sangat suka merampok, bahkan beberapa tindakan kekerasan yang terjadi di sekitar pasar terjadi karena kehendak Gabon.

Semua orang mengenal Gabon, mereka menakutinya dan tidak ada satupun yang berani melawan setiap perintahnya. Tetapi tidak denganku. Aku tidak takut sama sekali ketika menghadapi Gabon, karena aku tahu benar bahwa kami bersahabat, sangat baik, sangat akrab. Dia selalu membawaku bersamanya ke berbagai pasar, bertemu dengan para pedagang. Dia selalu mengatakan bahwa aku merupakan kerabat terbaik yang dimilikinya. Dia akan melakukan apa saja jika ada orang yang berniat jahat kepadaku. Aku sangat special, bukan?

Tetapi akhir bulan Januari merupakan hari terakhir aku bertemu dengan Gabon. Dia ditangkap oleh segerombolan polisi yang melakukan inspeksi dadakan di dalam pasar. Gabon diancam hukuman penjara yang aku tidak tahu pasti akan berjalan berapa lama.  Setelah kepergian Gabon aku bertemu semakin banyak orang. Sama halnya dengan Gabon mereka selalu menyanjung keberadaanku. Mereka selalu menganggap bahwa aku merupakan penyelamat dunia. Tanpa diriku dunia akan hampa, kosong dan tidak berharga.

Awal bulan Maret kemarin aku bertemu dengan seorang gadis yang sangat istimewa. Umurnya tujuh belas tahun. Dia memiliki mata yang indah dan rambut panjang yang begitu halus. Pakaiannya sungguh indah dan bagus, meskipun demikian dia tidak keberatan ketika bertemu denganku di sebuah warung pinggiran yang menjual berbagai gorengan murah meriah. Dia tersenyum sangat manis padaku saat itu, menatapku berkali-kali sambil mengamati tiap inci rupaku. Jika boleh berkomentar aku sangat malu saat itu.

Sejak saat itu kami berteman dengan sangat baik. Dia menceritakan kepadaku berbagai kegiatannya di sekolahnya. Bagaimana dia berhasil menyelesaikan ujian matematika dengan sangat cepat dan tepat. Dia juga menceritakan kepadaku tentang seorang guru muda baik hati yang menjadi rebutan para gadis di sekolah. Hal itu sempat membuatku panic karena dia mulai bercerita tentang orang yang mungkin akan merebut perhatiannya kepadaku. Tetapi aku cukup lega ketika dia secara tegas menyatakan bahwa guru muda tersebut bukan seseorang yang penting baginya. Akulah yang terpenting, dan akan selalu begitu.

Dia selalu membagi hari-harinya yang menyenangkan dan aku akan selalu ada untuk mendengarkan setiap cerita yang dia miliki. Bibirnya selalu memberikan aku senyuman yang sangat manis. Terkadang aku merasa kagum padanya, kepedihan sepertinya tidak pernah menghampirinya. Aku merasa beruntung karena hal itu, aku jadi tidak perlu melihat mata indahnya menangis atau merasakan sakit apapun. Hanya kegembiraan dan akan selalu begitu.

Tetapi aku mulai merasakan ada sesuatu yang disembunyikan oleh si gadis bermata indah. Dalam seminggu ini dia hanya menemuiku satu kali ketika hari sudah begitu larut. Dia hanya menatapku tidak mengatakan apapun kepadaku. Aku mencoba untuk memintanya mengatakan sesuatu, tetapi hal itu tidak pernah terjadi. Dia tidak mau untuk mengatakan apapun.

Aku sungguh khawatir melihat gadis bermata indah itu. Matanya memerah seperti habis menangis. Wajahnya pucat dan rambutnya berantakan. Dia tidak mengatakan apapun. Dia hanya menatapku. Tatapannya dipenuhi oleh kebencian. Dia hanya meninggalkanku sendiri yang terjebak berbagai pertanyaan yang tidak pernah bisa aku jawab sendiri.

Hari-hari berikutnya dia tidak lagi pernah menemuiku. Aku selalu berharap dia untuk datang kepadaku dan menceritakan semua yang terjadi seperti dulu lagi. Aku ingin dia menjelaskan apa yang terjadi padanya, kenapa dia menangis dan sangat berantakan pada malam itu. Aku ingin dia mengatakan kepadaku apa yang terjadi padanya. Tetapi hal itu tidak pernah aku temukan alasannya. Dia tidak pernah datang kepadaku lagi aku bahkan tidak lagi mendengar suaranya dari dalam rumah.

Meskipun dia telah melupakan aku dan meninggalkanku, aku tetap menunggunya. Aku selalu menanti saat-saat mata indah itu menatapku lagi. Aku selalu menunggu kedatangannya, mungkin hanya untuk sekedar mendengar suaranya ketika berbicara. Aku pikir itu cukup, tetapi tetap saja hal itu tidak pernah terjadi.

Aku mulai menyerah akan keberuntungan yang akan membawa dia kembali padaku. Mungkin dia memang tidak akan kembali. Mungkin tatapan kebencian pada malam hari itu merupakan tatapan terakhir yang dia berikan kepadaku. Mungkin ini merupakan akhir dari hubunganku dengan gadis bermata indah itu. Kami tidak akan pernah menjadi teman lagi. Tidak akan pernah lagi. Aku memutuskan untuk menyerah dan memilih untuk tidak lagi mengaharapkan sebuah keajaiban yang mungkin terjadi di antara aku dan dia.

Aku memutuskan untuk melanjutkan petualangan hidupku. Mungkin dengan sedikit peruntungan aku akan melupakan gadis itu. Mungkin dengan perjalanan hidupku aku akan memahami mengapa gadis bermata indah itu tidak lagi mau menemuiku. Atau mungkin saja ini merupakan takdir yang harus aku hadapi, bahwa kami tidak mungkin bisa menjadi teman yang baik untuk selamanya.

Tetapi ketika aku baru akan mencoba seluruh peruntungan itu, gadis bermata indah itu kembali padaku. Dia lagi-lagi memandangku dengan tatapan yang sangat tajam, penuh kebencian. Dia tidak berkata apapun. Dia hanya membawaku pergi tanpa mengatakan sepatah katapun. Aku bisa mencium aroma kebencian yang dia miliki ketika membawaku pergi.

Dia terus berlari membawaku pergi. Dia sama sekali tidak memberikan aku kesempatan untuk bertanya tentang apa yang sedang terjadi pada saat ini. Dia mengacuhkanku dan tidak membiarkan keberadaanku mengganggu setiap tetes kebencian yang sedang mengalir di dalam darahnya. Aku bungkam dan hanya membiarkan dia membawaku entah kemana.

***

“Kamu tahu gak gimana rasanya tinggal sendiri dan tidak memiliki apapun?” bentak gadis bermata indah itu ketika sampai di tepi sebuah danau yang aku tahu sangat jauh di dalam hutan.

“Apa kamu tahu gimana rasanya kehilangan semua yang kamu miliki?”, dia lagi-lagi membentakku sambil terus mengatur nafasnya.

“Kamu gak mungkin tahu gimana rasanya gak punya apa-apa! Karena kamulah sumber malapetaka yang terjadi di rumah aku! Kamu yang menyebabkan aku kehilangan segalanya! Aku kehilangan papa, mama, rumah dan semuanya Cuma gara-gara kamu dan teman-teman kamu! Apa artinya kamu di dunia ini? Apa kamu sangat berharga untuk diperebutkan oleh semua orang!”, gadis bermata indah itu terus berteriak sambil tidak melepaskan aku dari genggamannnya dan aku hanya memutuskan untuk diam, karena hanya itulah yang aku mampu.

“Kamu tahu orang tua aku sekarang ada di mana? Mereka ada di penjara dan itu semua karena kamu! Karena kamu! Mereka buta akan keberadaan kamu! Mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kamu dan teman-teman kamu! Mereka berpikir kamulah yang mendatangkan kebahagiaan!!! Mereka salah!”, dia berteriak sambil berkali-kali membenturkan tubuhku ke beberapa batu besar di pinggir danau itu.

Gadis itu terus menangis. Dia mengungkapkan berbagai peristiwa yang menimpa keluarganya. Kedua orang tuanya divonis dua puluh lima tahun penjara karena terlibat skandal korupsi pemerintahan. Dia sendiri dan merasa kesepian. Dia melimpahkan semua kekesalannya kepadaku, menyalahkan keberadaanku yang mengakibatkan kedua orang tuanya lupa diri hingga menghalalkan segala cara untuk mendapatkanku. Dia memutuskan untuk menyerah terhadap cobaan yang dihadapinya. Dia membawaku hingga ke dalam danau yang aku tidak tahu di mana ujungnya berada. Dia membawaku agar dia tidak lagi kesepian di dalam air yang dingin ini.

***

            “Selamat malam pemirsa sekalian, berikut ini kami akan menyajikan sebuah berita terbaru yang kami peroleh langsung dari tempat kejadian. Sore hari tadi, tepatnya pukul lima sore, seorang gadis ditemukan tidak bernyawa lagi di dasar sebuah danau di tengah hutan lindung Budaya Alam. Gadis tersebut ditemukan tanpa identitas. Saat tim evakuasi menemukan tubuh gadis tersebut, tidak ditemukan sisa tindakan kriminal ataupun surat-surat keterangan mengenai latar belakang gadis tersebut. Gadis tersebut ditemukan di dasar danau sambil menggenggam sebuah uang koin senilai lima ratus rupiah. Jika ada masyarakat yang mengenal gadis tersebut atau merupakan keluarga gadis tersebut, Anda bisa menjemput jenazah gadis tersebut di Rumah Sakit Jaya Indah. Demikian berita malam hari ini, terimakasih.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s