CERPEN ; UNTITLED

UANG

Aku mulai membencinya. Membayangkan sosoknya saja berhasil membuatku merasa sedang berada di dalam ruangan yang penuh sesak. Aku mulai membenci keberadaannya yang menyiksa. Aku membencinya karena dia berhasil merenggut seluruh kebahagiaan yang pernah aku miliki. Aku mulai membencinya karena aku anggap dia merupakan malapetaka yang seharusnya tidak pernah menjadi batu sandungan di dalam kehidupanku.

Dia berhasil menggiringku ke dalam sebuah kehampaan. Dia menjerumuskanku pada situasi yang tidak pernah aku mengerti. Dia membawaku mengarungi beratnya kehidupan. Meskipun di satu sisi keberadaannya memberikan pelajaran bagiku, tetapi proses yang mengiringi keberadaannya sangat menyiksa, sangat memilukan.

Keberadaannya sempat memberikan kenangan yang begitu indah. Setidaknya dia pernah mewarnai kehidupanku dengan warna favoritku. Warna yang melukiskan keindahan pelangi. Keindahan tanpa cela yang mengiringinya. Namun aku sempat terlena oleh keindahan yang dibawa olehnya. Aku lupa mengenai keberadaan awan hitam yang menjadi latar keindahan pelangi tersebut.

Dia berhasil merenggut indahnya masa-masa sekolah dasarku. Dia berhasil merenggut perempuan yang begitu aku cintai. Dia berhasil membawanya pergi dan tidak pernah memberikan aku kesempatan untuk mengatakan betapa aku mencintai perempuan itu. Dia tidak mengizinkanku untuk memberikan hari-hari terbaik yang aku miliki. Dia berhasil merenggut ibuku, membawanya dan tidak akan pernah memberikanku kesempatan untuk bertemu dengan ibuku lagi.

Saat itu merupakan masa-masa terberat yang aku miliki. Aku sibuk menata hati. Aku tidak pernah menyadari bahwa bencana yang dibawa oleh dia akan kembali menghampiriku. Aku merasa terlalu sakit, terpukul dan kecewa. Aku kehilangan diriku, kehilangan sebagian besar kebahagiaan yang aku miliki. Namun polosnya masa kanak-kanakku tidak membuatku sadar bahwa hal ini terjadi karena keberadaan dia.

Setelah rasa sakitku pulih dia datang sebagai kebahagiaan yang nyata. Dia memberikanku rasa nyaman, rasa aman dan rasa kecukupan yang luar biasa. Dia berhasil membawaku ke dalam jeratan yang entah bagaimana tidak pernah aku sadari hingga aku beranjak dewasa. Dia berhasil membuatku percaya bahwa dia akan selalu ada untukku dan dia akan selalu memberikan yang terbaik untukku.

Sekolah Menengah Pertamaku berjalan dengan sempurna. Aku memiliki teman-teman yang selalu bersamaku. Dia selalu menjadi pendampingku yang setia setiap kali aku merasa bosan dengan situasi sekolah. Dia juga selalu ikut saat aku dan teman-temanku berkumpul bersama. Dia menawarkan kesenangan yang tidak cukup untuk aku lukiskan dengan kata-kata. Mungkin keberadaannyalah yang membuatku memiliki teman-temanku tersebut. Dialah yang mendekatkanku dengan persahabatan yang aku tidak tahu apakah itu wujud persahabatan yang sesungguhnya atau tidak.

Indahnya masa SMPku juga dilanjutkan dengan masuknya perempuan baru di dalam kehidupn keluargaku. Dia yang mempertemukan perempuan baru itu dengan Ayahku. Dia juga yang menciptakan wujud sempurna perempuan baru itu sehingga aku dan ayahku menganggap perempuan baru itu layak untuk menjadi bagian dari keluargaku. Dia yang membuat perempuan tersebut terlihat pantas untuk mendampingi Ayah, Aku dan adik-adikku. Sekali lagi dia berhasil menciptakan kebahagiaan baru di dalam kehidupanku.

Kebahagiaan yang dia bawa ternyata merupakan sebuah lukisan sementara. Tahun demi tahun berlalu dengan penuh kebahagiaan yang perlahan memudar. Kehidupan SMA ku tidak seindah cerita yang selalu dilontarkan oleh orang lain. Kebahagiaan yang dia tawarkan harus aku bayar dengan kepahitan bertubi-tubi. Dia meminta balasan atas keindahan yang dia berikan. Dia meminta balasan dengan memberikan kekecewaan, penderitaan dan rasa sakit bagiku.

Masa sekolah dan kehidupanku hancur. Aku tidak memiliki cukup banyak teman karena aku tidak lagi memiliki dia. Keluargaku berantakan karena dia tidak lagi menjadi teman baik kami. Dia juga berhasil membuat rumahku menjadi badai yang pada akhirnya meninggalkanku  dalam kesendirian dan keputus asaan. Aku sendiri dalam menghadapi kehidupanku. Aku sendiri dalam mempertahankan eksistensiku untuk terus berkarya. Di tengah keterpurukanku aku tetap harus mencari dia. Aku tetap harus menemukan dia. Dialah yang bisa aku harapkan untuk menyelesaikan seluruh permasalahanku dan kesendirianku.

***

            Aku menatap wajahku dicermin. Memandang puas pada hasil riasanku. Tambahan  mascara  dan eyeliner merupakan final touch yang aku butuhkan. Setelah selesai berdandan aku mulai mengenakan pakaianku. Terusan hijau tosca dan blazer hitam menjadi pilihanku untuk meeting dengan klien baruku.

            Belum selesai mengenakan blazer, ponselku berdering nyaring. Aku bergegas mengejarnya sebelum deringan yang memekakkan telinga itu berhenti. Aku menyapa penelepon tersebut dengan sangat antusias. Namun suara penelepon tersebut justru terdengar aneh. Suaranya sangat berat, mengandung kekhawatiran dan berita buruk. Penelepon itu memang membawa berita buruk, berita yang sangat mengecewakan dan merupakan berita yang disebabkan oleh dia.

Dia kembali dalam kehidupanku dengan membawa mimpi buruk yang kembali terulang di dalam kehidupanku. Aku hanya bisa diam. Begitu pedih yang aku rasakan pada saat ini. Dia berhasil membawa ibuku, menghancurkan kehidupan keluargaku dan sekarang dia juga berhasil membawa adikku. Dia sukses, dia berhasil membuatku menyadari bahwa dia merupakan sumber malapetaka. Dia juga berhasil membuatku begitu membencinya.

***

Aku memandang kosong pada gundukan tanah yang masih basah di hadapanku. Aku mengelus nisan yang tertanam di tanah itu dengan penuh kerinduan dan rasa duka yang sangat dalam. Aku tidak lagi mampu menahan air mataku. Adik bungsuku menangis dipelukanku, sementara ayahku hanya bisa duduk memandangi bunga-bunga khas perkuburan yang ada dihadapannya.

Mataku memandang nisan tersebut dengan sangat dalam. Aku ingat bahwa ini bukan merupakan saat pertama bagiku untuk memandang batu nisan yang dingin dan terlihat angkuh seperti itu. Aku ingat saat aku masih duduk di kelas lima sekolah dasar, aku pernah duduk seperti ini juga memandangi batu nisan yang dingin sambil menangis sesegukan tanpa memahami apa yang sedang terjadi. Tapi kini aku menyadari dialah yang mengakibatkan semua ini.

Pada awalnya ayahku memiliki sebuah perusahaan yang sangat sukses dan menjadikan keluarga kami sebagai salah satu keluarga yang terpandang. Namun kehadiran dia yang mengiringi kesuksesan ayahku ternyata telah membutakan cinta yang dulu dimiliki oleh ayah untuk ibuku. Ayah menjadi pengunjung klub malam yang paling setia dan memiliki peliharaan yang selalu menuntut kesenangan materi kepada Ayahku. Ibu yang selama itu mendampingi ayah merasa tidak sanggup dengan kenyataan tersebut. Hingga pada akhirnya ibu memutuskan untuk mengakhiri kehidupannya, meninggalkan aku, adik-adikku dan juga ayah.

Kepergian ibu merupakan cobaan yang berat bagi keluargaku. Aku dan adik-adikku cenderung menjadi pribadi yang tertutup. Mungkin kami bisa menunjukkan kebahagiaan di hadapan banyak orang  tetapi jauh di dalam hati, kami selalu membawa rasa sakit itu. Ayah mulai memperbaiki dirinya dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan aku dan adik-adikku. Perlahan-lahan kami mulai melupakan kenangan pahit itu.

Keberhasilan perusahaan ayah juga menawarkan kesenangan yang sangat menggembirakan. Kunjungan ke luar negeri merupakan aktivitas rutin yang selalu kami lakukan bersama. Hanya aku, ayah dan dua adikku. Kami sangat bahagia dan tidak pernah menyadari bencana yang sebenarnya akan terjadi.

Pertemuan ayah dan tante Fitri juga menjadi sebuah tahapan yang sangat menyenangkan. Tante Fitri merupakan seorang janda tanpa anak yang dianggap tepat untuk menjadi ibu bagi keluarga kecilku. Aku menyambut keputusan ayah untuk menikahi tante Fitri dengan sangat riang dan penuh antusias. Aku sangat mengingat betapa bahagianya kami dulu.

Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama karena dia kembali datang dalam sosok yang menyeramkan. Perusahaan ayahku bangkrut. Aku terlibat berbagai pertengkaran dengan tante Fitri. Puncak pertengkaran terjadi pada saat tante Fitri memaki adik-adikku dan mencoba untuk mengusir mereka dari rumah. Aku berusaha untuk melindungi adik-adikku, namun karena telah termakan berbagai kata manis tante Fitri, aku dan adik-adikku terpaksa harus meninggalkan rumah. Ayahkulah yang mengusir kami, anak-anaknya.

Aku ingat bagaimana perjuanganku untuk mengumpulkan dia. Aku ingat bagaimana usaha yang aku lakukan untuk dapat menjadi teman dia kembali. Usahaku ternyata tidak pernah sia-sia. Meskipun aku harus melakukan berbagai pekerjaan yang berat, tetapi pada akhirnya aku berhasil menyelesaikan sekolah desain pakaianku. Aku berhasil menjadi salah satu desainer yang cukup dikenal oleh banyak orang. Keberhasilanku ini membuatku kembali bersahabat dengan dia. Dia kembali menjadi teman baikku yang selalu menemaniku.

Namun keburukan yang dibawa oleh dia ternyata harus ditanggung oleh adik laki-lakiku. Dia yang menyebabkan adikku terbunuh di dalam kasus perampokan mobil yang menimpa adikku. Adik yang begitu aku sayangi kini harus pergi meninggalkanku karena cobaan yang berasal dari dia.

Dia tidak hanya berhasil mengatur kehidupanku. Dia selalu berhasil merasuki jiwa setiap manusia untuk melakukan banyak hal demi mendapatkannya. Uang…. Betapa dia memiliki kuasa atas kehidupan setiap manusia. Karena uang ayahku lupa diri yang mengakibatkan ibuku meninggal dunia, karena uang juga aku merasakan manisnya kehidupan dunia. Karena uang aku dan keluargaku bertemu tante Fitri, dan karena uang juga aku dan adik-adikku harus terusir dari rumah yang selama ini kami huni. Pada akhirnya uang jugalah yang menjadi motif meninggalnya adikku. Uang memiliki kekuasaan yang besar atas jiwa manusia. Aku menatap nisan adikku dan mengusapnya dengan penuh sayang.

“Setidaknya uang tidak akan mengganggu kebahagiaanmu di alam sana, Ky” bisikku sambil mengelus nisan adikku, Rafky, sebelum kami semua beranjak pergi dari pemakaman tersebut.

 

  

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s