At The Dolphin Bay <3

It’s December and it’s the most perfect time to get a vacay!!!

Rencana untuk mengunjungi sahabat-sahabat laut di Teluk Kiluan sebenarnya sudah ada dari jauh-jauh hari. Hanya saja waktu, pekerjaan, dan akomodasi selalu menggagalkan saya untuk berkunjung, menemui para sahabat laut yang ada di sana. But FINALLY!!!!!!!!!!!!!!!! Rencana untuk menuju kota Bandar Lampung bisa kesampaian juga berkat banyaknya tanggal merah di bulan Desember ini.

Gerbang menuju Teluk Kiluan (Dari Kiri-Kanan : Saya, Edo, Hasbong, Bencut dan Fitri)
Gerbang menuju Teluk Kiluan
(Dari Kiri-Kanan : Saya, Edo, Hasbong, Bencut dan Fitri)

Liburan Natal saya manfaatkan untuk mengunjungi Bandar Lampung. Bermodalkan browsing blog selama beberapa minggu, saya, Edo, Bencut dan Fitri akhirnya menetapkan hati untuk traveling miskin! Lucky us, Edo dan Bencut punya sahabat senasib sepenanggungan sejak jaman SMP, Hasbong, yang jadi tuan rumah di Bandar Lampung. Hasbong siap menyambut kami di Kota Pisang Coklat, Bandar Lampung.

Tanggal 25 Desember kami tetapkan sebagai tanggal keberangkatan, karena setelah diterawang cukup dalam, arus mudik dari Jawa ke Sumatera di tanggal segitu pastinya tidak terlalu ramai. Setelah bertemu di meeting point (kos-kosan Edo di kawasan Tawakal – Grogol) pada pukul delapan pagi, kami berangkat menuju Terminal Kalideres menggunakan bus Transjakarta. Sepanjang perjalanan, senyum sumringah menghiasi wajah kami yang sudah siap untuk menghirup udara air laut.

Sampai di terminal Kalideres, calo-calo bus angkutan umum langsung menyerbu kami. “Mau kemana mbak?” atau “Mau kemana mas?” atau “Ayoo, naik bus saya aja” menyambut kami, empat orang buta dengan dunia per-ngetengan. Jauh-jauh hari sebenarnya saya sudah mengusulkan ke Edo untuk ngeteng menggunakan bus Arimbi jurusan Kalideres-Merak, karena lebih murah dan yaaaaaaaa KARENA MURAH. HAHAHAHAHA. Tapi serbuan abang-abang calo menutup mata kami berempat. Akhirnya kami membeli tiket bus Ranau Indah seharga 160 ribu rupiah dengan jurusan Kalideres-Bandar Lampung. Kami pikir dengan menumpang bus satu ini perjalanan akan jadi jauh lebih mudah, karena kami gak perlu mencari bus lain dari Pelabuhan Bakauheni-Bandar Lampung. Tinggal duduk manis dan tunggu. Tiket sudah dibayar, tapi tololnya kita semua baru bertanya tanggal keberangkatan, “Berangkat jam berapa bang?” kata Edo. “Jam 2 mas.”

WHATTTTT!!!!!!!!!!!!!!!

Kami sudah sampai di terminal dari jam 9 pagi dan sekarang kami harus menunggu sampai jam 2 siang. Badan lemes, senyum bahagia mulai susut. Kami pun tetap memutuskan untuk menunggu bus jam dua ini. Obrolan ngalor ngidul sambil Bencut dan Edo bernostalgia jaman pesantren jadi menu kami selama menunggu. Tapi ternyata waktu berjalan sangat lambat ketika harus dihadapkan pada situasi MENUNGGU. Sejam rasanya tiga jam. Tidak bermaksud lebay, tapi IT’S TRUE!!!!

Terminal Kalideres
                       Terminal Kalideres

Waktu menunjukkan pukul 10 pagi. Hasbong yang sudah siap sedia menunggu kami di Bandar Lampung akhirnya me-whatsapp Edo dan menyarankan kami untuk mengembalikan tiket yang sudah terlanjur dibeli. Menurut Hasbong bus yang akan kami tumpangi itu tidak akan menggunakan jalur tol dan akan lebih lama ngetemnya di  beberapa terminal, yang artinya kami akan sampai di Bandar Lampung lebih lama. Setelah berdiskusi cukup alot, mencari plus minus dari angkutan yang kami tunggu, akhirnya kami minta cancel ke pihak P.O angkutan tersebut. Untungnya pihak bus masih berbaik hati untuk mengembalikan uang kami, walaupun di potong 25% yang kami anggap sebagai uang goblok. Kami akhirnya memutuskan untuk menumpang bus Arimbi jurusan Kalideres-Merak dengan harga 26 ribu/orang. LEBIH MURAH!!!!! Kami pun mulai meninggalkan Terminal Kalideres pada pukul 11 siang.

Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama, kami pun sampai di Pelabuhan Merak!!!! Sekali lagi kami beruntung, karena kapal yang kami naiki adalah Kapal Portlink, kapal yang saat ini masih menempati posisi teratas di jalur Selat Sunda. Kapalnya nyaman, penumpang juga tidak terlalu padat dan yang paling penting harganya MURAH!!! Lima belas ribu rupiah/orang. Sekitar pukul 5 sore, kapal pun bertolak dari pelabuhan menuju Pelabuhan Bakauheni Bandar Lampung.

Di dalam Kapal Portlink
                Di dalam Kapal Portlink

Perjalanan menuju Bandar Lampung dengan menggunakan kapal kami tempuh selama dua jam. Bosan? Tentu tidak!!! Karena Sunset menjadi hiburan kami selama perjalanan, ya termasuk televisi yang ada di kapal juga sih.

Sunset di Selat Sunda
                 Sunset di Selat Sunda

Kami pun sampai di Pelabuhan Bakauheni pukul tujuh malam. Jika mau ngeteng dari pelabuhan menuju kota Bandar Lampung, tinggal menggunakan travel dengan harga yang cukup variatif. Dari 15 ribu sampai 30 ribu ada. Berhubung sang tuan rumah sudah menunggu, Hasbong, sudah berjanji untuk menjemput kami di pelabuhan, jadinya calo-calo bus angkutan harus berkecil hati ketika menawarkan kami jasa angkutan mereka.

Kami sampai di pusat kota Bandar Lampung setelah menempuh perjalanan sekitar 2,5 jam, karena terjadi kecelakaan beruntun di salah satu turunan maut, plus banjir di beberapa ruas jalan. Udara yang dingin, perjalanan yang melelahkan, plus perut keroncongan akhirnya mengantarkan kami ke Nasi Uduk Toha. Menurut cerita Hasbong, Bapak Toha ini tadinya cuma seorang tukang cuci piring di warung nasi uduk yang lumayan besar di Lampung. Tapi roda kehidupan benar-benar berputar, sekarang Pak Toha memiliki sejumlah ruko nasi uduk yang tersebar di beberapa titik, tapi ruko nasi uduk tempat dia bekerja dulu sekarang justru hanya menjadi warung tenda nasi uduk biasa. Anyway perjalanan kami pada hari itu pun terhenti di rumah Hasbong untuk beristirahat.

Esok paginya, setelah menikmati sebungkus nasi uduk plus telur rebus sambel dan sedikit petuah dari orang tua Hasbong, kami berangkat menuju Teluk Kiluan pada pukul sembilan pagi. Perjalanan menuju Teluk Kiluan memang sebaiknya menggunakan mobil-mobil dengan ketahanan mesin yang hebat, karena jalur menuju kesana bisa dikategorikan rusak parah. Tapi pemandangannya? TIDAK USAH DITANYA!!! Untuk menuju kesana, kita harus melewati hutan, perbukitan, sawah, tambak udang dan yang pasti beberapa pantai cantik yang dijaga oleh pasukan TNI, misalnya saja Pantai KLARA (KeLApa RApat). Mata benar-benar dimanjakan oleh pemandangan yang beragam. Paru-paru bersorak sorai karena udara yang masuk begitu bersih dan segar. Bencut yang punya penyakit asma berkali-kali nyeletuk “Gue pasti sembuh kalau tinggal di sini”.

Sawah dan perbukitan menuju Kiluan
    Sawah dan perbukitan menuju Kiluan

Sekitar lima jam perjalanan dari pusat kota Bandar Lampung, akhirnya kami sampai di Teluk Kiluan. Waktu menunjukkan pukul 14.00 wib, menjenguk lumba-lumba pada saat itu juga jelas tidak mungkin. Kami akhirnya memutuskan untuk menuju ke Laguna yang ada di sekitar sana. Beach is not only about sand and waves. Ini terbukti dari perjalanan kami menuju Laguna. Kami harus melewati batu karang terjal dan jembatan-jembatan kayu ala kadarnya. Ekstrim? SANGAT!!! Tapi kepuasan ketika menemukan mangkuk biru berair asin yang tenang tanpa ombak? Tak dapat tergantikan!!!

Bencut dan Fitri di Laguna
             Bencut dan Fitri di Laguna
Lagoon, I'm in love!!!
                Lagoon, I’m in love!!!
Best friends, good place, IT'S HEAVEN!
      Best friends, good place, IT’S HEAVEN!

Setelah puas nyebur di laguna dan menikmati pemandangan bawah air yang terbatas tapi menawan, kami memutuskan untuk menyebrang ke Pulau Kelapa dan bermalam di sana. Sedikit preview tentang kondisi di sini, penduduk lokal benar-benar memanfaatkan potensi wisata yang ada!!! Untuk menuju laguna saja, setiap orang harus membayar Rp. 3000, untuk menyebrang pulau harus membayar Rp. 15,000 – Rp. 20,000, untuk melihat lumba-lumba harus membayar Rp. 250,000/tiga orang untuk satu jukung. Untuk sewa lahan membangun tenda Rp. 75,000 dan uang masuk pulau Rp. 5,000/orang. Untuk pelampung dibandrol seharga Rp. 10,000 dan gogles untuk snorkling Rp. 25,000 (padahal pelampung dan goggles-nya sudah rusak parah). Mie rebus Rp. 10,000 dan Nasi putih Rp. 5,000 (di pulau kelapa). Well every beauty has its prices, right? So……………. LANJUT LIBURAN!!!!

Menuju Pulau Kelapa
               Menuju Pulau Kelapa

Di pulau kami memutuskan untuk membangun tenda. Pasir putih dan debur ombak menjadi teras tenda kami. Umang-umang, burung liar, dan laron menjadi binatang peliharaan kami. Berhubung hujan sedang rutin menyapa negeri ini, alhasil kami tidak bisa menyalakan api unggun. Malam hari kami lewati dalam gelap dan khawatir. Laut yang pasang dan tenda yang mengarah ke pantai membuat ombak beberapa kali menyapa pintu tenda kami. Cuaca yang tidak menentu seperti ini jelas membuat saya khawatir, bisa-bisa besok kami gak bisa ikut hunting lumba-lumba!!!! OHHHH NOOOOO!!!!!! Setelah bertanya ke pengurus pulau, kami baru bisa menyewa perahu jukung untuk hunting lumba-lumba di trip kedua, sekitar pukul 8-9, karena memang sudah banyak yang memesan perahu duluan. Saya jelas khawatir, karena kebanyakan blogger menyatakan kalau lumba-lumba bisa didapatkan dari pukul 6 pagi sampai pukul 10, makin siang makin jarang yang terlihat.

Pagi hari di Teluk Kiluan gerimis panjang menemani kami. Saya sudah pasrah deh kalau memang harus batal hunting lumba-lumba. Beberapa kali saya bertanya ke turis yang sudah pergi hunting. Ada yang berhasil melihat, ada yang tidak. Setelah diskusi dan sedikit gambling kami akhirnya menyewa 2 perahu. Saya, Edo dan Hasbong di satu perahu, Bencut dan Fitri di perahu lainnya. Kami menyebrang ke tengah samudra. Menurut nelayan setempat, kalau tidak ada lumba-lumba, berarti sedang ada banyak hiu, tapi kalau banyak lumba-lumba, hiu biasanya malas mendekat. Wahhhhh, perasaan campur aduk, bagaimana kalau ketemu hiu? Kalau hiu-nya gak galak seru juga kali yaaa.. Hahahahaha…

View from our tent!!!
                View from our tent!!!
Home Sweet Home
                     Home Sweet Home

We were so LUCKY!!! Ternyata lumba-lumba justru terlihat sedikit di perjalanan trip pertama. Kami bahkan berhasil bertemu lumba-lumba sebanyak empat kali!!! Sensasinya jelas berbeda jika dibandingkan ketika melihat lumba-lumba yang ada di Ancol. Yang bisa menghitung atau melompat melalui ring. Lumba-lumba yang kami saksikan ini adalah lumba-lumba yang berada di rumahnya, yang berada di tertorinya, yang masih memiliki insting liarnya, lumba-lumba sesungguhnya. Takjub? JELAS!!!!!!! Diantara terjalnya karang hidup makhluk pintar  yang katanya bersahabat dengan manusia. Saya pun semakin jatuh cinta dengan keindahan Indonesia, dengan keindahan dunia bawah laut. (Check the dolphin’s video in http://websta.me/p/885068398181816190_503400836)

At The Dolphin Bay
                   At The Dolphin Bay

Teluk Kiluan menawarkan pesona yang luar biasa! Walaupun sempat snorkling di tepi pantai dan menemukan sedikit ikan (karena spot snorkling harus menyewa kapal lagi, artinya harus keluar uang lagi) akhirnya kami memutuskan untuk menghabiskan waktu di sepanjang pantai di Pulau Kelapa.

Samudra Hindia
                     Samudra Hindia
Ombak dan Karang, I'm in love :')
       Ombak dan Karang, I’m in love :’)
Beach Boys
                           Beach Boys
Corals hunting
                     Corals hunting
Balapan Umang-Umang
                Balapan Umang-Umang

Overall, Teluk Kiluan memberikan saya pengalaman yang tak terlupakan. Saya semakin bersyukur dilahirkan sebagai orang Indonesia. Negeri ini menyimpan sejuta keindahan yang menunggu untuk dieksplor. Semoga dengan banyaknya wisatawan yang berkunjung kesini, pemerintah bisa memperbaiki infrastruktur yang porak poranda. Selain itu untuk para wisatawan PLEASE BE AWARE!!!!! JANGAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN!!! DUNIA BAWAH LAUT TIDAK BUTUH PLASTIK BEKAS MAKANAN ATAU KERTAS TISSUE YANG KALIAN GUNAKAN!!!

Sekali lagi Teluk Kiluan benar-benar tak akan terlupakan. Terimakasih Edo, Hasby, Bencut dan Fitri!!! Setelah berburu lumba-lumba, next trip kita berenang bareng hiu dan ikan pari ya!!!!!!

HINDIA OCEAN??? NAILED IT!!!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s