Ternyata di Teluk Bayur Ada Surga Kecil Ini!

A Vacation is what you take when you can no longer take what you’ve been taking – Earl Wilson.

Mungkin cerita mengunjungi tanah Bungus (Baca: Bunguih) ini sedikit basi karena terjadi sekitar dua tahun yang lalu. Hanya saja saya yakin dengan keindahan alam yang masih terjaga di sana, tempat ini masih sangat menarik untuk dikunjungi. Dengan keramahan masyarakat lokal dan tentunya dengan kehangatan pisang goreng ketan di pagi hari, tempat ini punya sejuta cerita menggoda yang membuat saya ingin kembali kesana. Hahaha, just check this out!

Perjalanan ke Provinsi Sumatera Barat yang terkenal dengan rendang atau sate padeh-nya ini disponsori oleh kondisi jobless dan menanti wisuda. Rencana menuju ke tempat ini serba dadakan. Saya dadakan menghubungi pacar, yang dalam kasus saya juga adalah partner in crime sekaligus teman traveling, saya pun dadakan memesan travel untuk menuju kota Padang. Semuanya serba dadakan. Namun akhirnya sekitar pukul 12 siang travel yang saya tumpangi meluncur dari kota asal saya, kota Pekanbaru.

Perjalanan menuju kota yang rancak bana ini dihiasi berbagai macam pemandangan. Danau PLTA Koto Panjang, hutan, bukit-bukit kapur bertanah merah, perbukitan hijau, kelok sembilan yang menawan dan udara yang begitu sejuk. Sayangnya karena saya menumpang travel, saya jadi tidak bisa mengabadikan momen di beberapa tempat dengan panorama yang luar biasa. Jika kamu memang tertarik untuk mengunjungi tempat ini, menggunakan transportasi pribadi atau rental mobil sepertinya lebih baik dan menyenangkan, karena kamu bisa mengeksplor keindahan alam selama di perjalanan.

Break makan, waktunya foto-foto!!!

DSC_8200

Saya memasuki Kota Bukittinggi sekitar jam 6 sore. Hawa dingin kota jam gadang ini mulai menggilitik kulit. Sweater dan syal terpaksa mulai saya rapatkan untuk menghangatkan tubuh. Warna senja, persawahan, rumah-rumah khas minang kabau, landscape menawan gunung merapi menyambut kedatangan saya. Sekali lagi keindahan itu hanya bisa terekam di memori saya. Next time wajib berkunjung pakai mobil pribadi pokoknya!

Diantara semua pengguna jasa travel, saya dan pasangan adalah yang paling akhir diantar ke tujuan. Kami terpaksa harus ikut mengantarkan penumpang lainnya sampai ke rumah masing-masing dengan bonus pemandangan khas pedesaan yan identik dengan rumah gadang-nya ini. So much fun!

Sekitar jam 8.30 malam kami mulai memasuki wilayah Teluk Bayur. Pelabuhan yang terkenal berkat lagu lawas tante Ernie Djohan ini memanjakan mata dengan pendar-pendar lampu kapal yang berbaris rapi. Wangi khas lautan juga sudah menggelitik hidung, membuat insting manusia setengah dugong saya (pacar saya pasti akan tertawa puas karena pengakuan ini) mulai bergejolak. Tepat jam 9 malam saya sampai di penginapan yang tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman dan ramah di kantong. Perjalanan panjang membuat saya terlalu lelah untuk mengeksplor Bungus pada malam hari.

Tepat pukul 5.30 pagi saya dan tentunya pacar yang selalu di sisi mulai bergegas menuju pantai Carolina yang letaknya sekitar 100 meter dari penginapan. Warga yang tinggal di sekitar pantai sudah memulai aktivitasnya. Ada yang berjualan, ada juga yang mulai merapikan jala ikannya. Disinilah indra penciuman saya mengendus keberadaan goreng pisang hangat dan ketan yang sepertinya akan sangat sedap dimakan di tepi pantai. Hanya bermodalkan 5000 rupiah sekantong goreng pisang dan ketan kami bawa menuju pantai.

Selamat Pagi Bungus!!!

Pepohonan yang rindang menyambut kami di gerbang menuju pantai. Debur ombak memecah kesunyian pagi. Pasirnya yang tidak terlalu putih, tapi menawan, membuat saya tidak sabar untuk segera menceburkan diri. Ketam kecil tampak mondar-mandir, mungkin merasa terusik dengan kehadiran kami. Dari kejauhan para nelayan sedang sibuk menarik jalanya dan seorang ibu-ibu menanti dengan sabar untuk membeli ikan segar hasil tangkapan pagi itu. What an epic moment in the morning! 

DSC_8222

DSC_8221

Di sekitar pantai Carolina ada sebuah pulau kecil yang hanya berisikan hamparan pasir putih. Pulau ini hanya terlihat ketika air laut surut. Seorang nelayan baik hati menawarkan kami untuk mengantarkan kami kesana dengan biaya 100 ribu berdua. Sebenarnya biaya ini masih bisa ditekan jika memang mau menawar. Perjalanan untuk menuju kawasan pasir timbul ini hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Tidak terlalu besar tapi cukup membuat puas karena pulau ini cuma milik berdua!!! :))

DSC_8224

DSC_8231

DSC_8235

Puas bermain di pasir timbul, kami bergegas kembali ke hotel karena harus check out dan melanjutkan perjalanan ke kota Padang. Untuk menuju ke kota padang kami menumpang angkutan umum yang melintas tepat di depan pengginapan. THANKS FOR YOUR BEAUTY AND HOSPITALITY BUNGUS, I’M SO GONNA COME BACK HERE!!!

DSC_8260 DSC_8253

Our hotel's backyard. What a view!!!

Advertisements

4 thoughts on “Ternyata di Teluk Bayur Ada Surga Kecil Ini!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s