Ternyata Traveling Membuat Kamu Lebih Kaya : “Keluarga” Baru Dari Pahawang

NOT I – NOT ANYONE else can travel that road for you, You must travel it for yourself – Walt Whitman.

Kalau kamu baca tulisan ini, kesannya saya seperti susah move on dari kota satu ini. LAMPUNG!!! Lagi-lagi saya kembali ke sini untuk yang ketiga kalinya. Tujuan saya kali ini pun mirip dengan postingan yang sebelumnya. Yep! Pulau Pahawang! Beberapa teman malah sempat bertanya, “lo enggak bosen apa kesana? Perasaan sisa kulit gosong lo masih ada, ehhh udah mau cabut lagi”. Yaaa, saya bisa apa selain bisa tersenyum sambil bilang, “keripik pisang coklat sama duren-nya udah ngangenin sih..”

Rencana perjalanan ke Lampung ini sendiri sebenarnya saya niatkan untuk “spending quality times with my girlfriends” yang memang belom pernah kesana. Selain itu sahabat-sahabat kesayangan memberikan tugas sebagai instruktur renang selama di pulau nanti. Yaaa… Tugas saya mirip-mirip artioma seksi jaman dulu di film Baywatch. Perjalanan kali ini pun saya putuskan untuk “numpang” trip sharing cost milik seorang teman, yaaaa kita sebut saja namanya Dinda, yang selalu promo jadwal jalan-jalan yang menggiurkan. Selain trip kali ini jauh lebih murah, kami juga dapat sensasi nginep di tenda tepi pantai ketika sampai di pulau nanti.

Semua rencana sudah diatur sedemikian rupa. Senang bukan kepalang ketika bisa jalan bareng sahabat-sahabat kesayangan, karena memang semua rencana traveling bareng hampir selalu batal dengan berbagai alasan, terutama pekerjaan. Tapi ternyata nasib berkata lain, dewa pengelana tidak berpihak pada kami. Satu per satu sahabat saya cancel dengan berbagai alasan yang memang tidak bisa terelakan.

Kecewa? Jelas! Semua usaha udah dilakuin, tapi ujung-ujungnya cancel lagi cancel lagi. Belum lagi rasa sungkan karena udah booking seat sama Neng Dinda. Walaupun yang bersangkutan super profesional (puas lo gue sanjung-sanjung, din?) dengan berkali-kali bilang “ya udah mbak, gak masalah kok”, saya tetep gak enak. Ahhhh, saya mah emang gitu orangnya. Saya mah gak bisa diginiin orangnya. (dag dug dess jerr plak!!! Yuk, lanjut!!!).

Anyway, traveling must go on!!! No matter what!!!

Saya pun memutuskan untuk tetap pergi bersama seorang teman, yang kali ini kita panggil dengan Non Ismi (rencana awal yang mau ikut rombongan saya sampai tujuh orang padahal). Mungkin karena anaknya kepala batu banget, jadi gak ada kata BATAL selama menyangkut masalah jalan-jalan.

Seperti biasa, perjalanan menuju Lampung dimulai dengan menumpang bus. Kalau biasanya saya naik via Kalideres-Merak, kali ini saya memutuskan naik lewat tol Kebon Jeruk-Merak atas saran seorang teman. Ternyata rute ini lebih cepat dan minim macet karena langsung jalan tol. Perjalanan menggunakan Bus Primajasa saya lewati selama dua jam dengan ngobrol ngalor ngidul sampai kecapean dan ketiduran. Tepat sekitar 22.30 malam bus mulai memasuki pelabuhan Merak. Walaupun ini perjalanan yang ketiga kalinya, tapi semangat bertemu dengan anemon laut tidak susut dimakan waktu (apaan sih lo!!!)

Pukul setengah dua malam rombongan trip saya yang lain pun mulai berdatangan. Wajah-wajah baru, saling memperkenalkan diri, berbagi cerita, ini yang selalu bikin saya ketagihan jalan-jalan, bisa ketemu dengan banyak sekali orang-orang baru. Total rombongan saya ada sepuluh orang, tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit. Feeling saya sudah bilang kalau perjalanan ini akan jadi sangat menyenangkan.

Kak Ismi Baru Pertama Kali Naik Kapal

Setelah naik kapal selama dua jam, kami pun sampai di Pelabuhan Bakauheni ketika Adzan Subuh berkumandang. Bang Boni yang jadi juru kemudi trip kali ini sudah menunggu untuk mengantarkan kami menuju Ketapang, tentunya tidak lupa mampir ke musholla terdekat. Kantuk mulai bertengger di pelupuk mata, tapi dasarnya kepala batu, ngantuk gimana juga tetap selalu gak bisa tidur selama perjalanan. Saya pun jadi saksi hidup wajah-wajah “tidur nanggung” anggota rombongan kali ini. Muka capek dan ngantuk mereka itu priceless :’)

Jam delapan pagi debur ombak samar-samar mulai menyapa kami semua. Horeeeeee!!!! Ketemu laut lagi!!!! Setelah sarapan nasi uduk delapan ribu rupiah komplit pakai telor, berganti pakaian untuk nyebur di laut, rombongan saya langsung menaiki perahu untuk menuju ke Pulau Kelagian untuk menyimpan barang-barang bawaan kami. Kalap lihat air laut, saya langsung nyemplung setelah menempatkan tas di tempat yang disediakan. Maklum mental dugong masih kentallll.

Pulau Kelagian Biota Laut di Pulau Gosongan

Setelah semua persiapan untuk snorkeling rampung, Bang Leman sang nakhoda perahu dengan sigap mengantarkan kami ke Pulau Gosongan. Di trip sebelumnya saya gak sempat mengunjungi tempat ini. Tentu saja momen nyemplung jadi yang paling ditunggu di sini. Layaknya spot snorkeling yang ada di sekitar Pulau Pahawang, Gosongan punya banyak sekali terumbu karang yang cantik. Di sini saya juga menemukan sepasang ikan clownfish atau yang lebih terkenal sebagai Nemo. Namun tetap sayang beribu sayang, banyak terumbu karang yang patah. Sedih sekali melihatnya 😥

Penampakan Terumbu Karang yang Mulai Rusak :'(

Puas bermain di Gosongan, rombongan saya melanjutkan perjalanan ke Pulau Kelagian Kecil, spot snorkeling yang paling bagus di Pahawang kalau menurut saya. Di sini selain banyak terumbu karang yang berwarna-warni, ikan lautnya juga banyak sekali terlihat, apalagi nemo-nya. Namun sekali lagi sayangnya terumbu karang di sana juga mulai banyak yang patah akibat aktifitas pariwisata. Selain itu banyak juga terumbu karang yang berubah warna menjadi putih, artinya terumbu karang mulai rusak. Sediihhhh, sediiiiihhh, sediiihhh!!!

Mini clownfish di Kelagian Kecil

Setelah itu rombongan saya pun bertolak ke Pulau Pahawang Kecil. Pulau indah yang terkenal dengan pasir timbulnya. Pulau indah yang “disewa” oleh orang asing berkewarganegaraan Prancis. Kami sempat ngobrol dengan juru kunci pulau ini. Ketika salah seorang teman bertanya, kepemilikan pulau ini ada batas waktunya, atau tidak, si bapak penjaga bilang, “kalau saya pikir sih sepertinya kepemilikannya ini selamanya mbak, tapi yaa kalau di pemerintahan kan gak diterangkan kalau ini kepemilikan seumur hidup. Tapi pemilik pulau ini baik, lho. Dia bantu bangun sekolah di Pahawang besar, baik juga sama warga dan semua karyawannya. Hasil laut dan hasil pulau enggak pernah dia ambil, selalu untuk koperasi yang ada di sini. Baik banget deh orangnya, mbak”. 

Yahh, si Om Prancis pasti tajir pisan yakk, sampai bisa sewa pulau hampir lebih dari empat belas tahun begini. Tapi miris saja rasanya karena pulau seindah ini jadi milik pribadi asing, atau apa mungkin lebih baik begitu kali ya? Karena pulau-pulau yang dikelola pemerintah malah lebih banyak yang gak keurus. Banyak yang masyarakatnya hidup di bawah garis kemiskinan. Kalau yang punya asing justru kelihatannya kok ya masyarakat setempat sejahtera dan pulaunya juga kelihatan terawat, bersih banget!!! Ahhhh, ini mungkin ya yang disebut lingkaran setan yang mungkin gak akan kunjung berhenti. Kayak buah simalakama.

Neng Dinda di Pahawang Kecil

Di Pahawang Kecil kami makan siang dengan nasi bungkus dan lauk ikan kembung. Makan siang di bawah rindangnya pohon, dengan pemandangan yang luar biasa ciamik. Amboooiiiii, surga dunia memang nyata adanya!

CAMERA

Setelah kenyang, setelah sedikit jepret-jepret bergaya layaknya model papan catur, perahu Bang Leman mengantarkan kami kembali ke Pulau Kelagian. Di pulau ini kami membangun tenda untuk istirahat malam nanti. Ketika neng Dinda dan aa Romy-nya sibuk memasak untuk rombongan, naluri anak lumba-lumba saya berkecamuk. Pantai dan plankton-plankton lautan mulai memanggil lagi, jadinya saya nyebur lagi deh. Muehehehehe.

CAMERA

Sang surya telah kembali ke peraduannya. Perut pun mulai butuh piknik supaya gak demo. Dengan beralaskan kertas nasi yang dijejerkan di tikar dan lampu temaram seadanya kami makan bersama. Jadi inget waktu pulang kampung ke Lubuk Sikapiang, Sumatera Barat dulu kalau makan begini. Makan begini kalau di kampung dulu bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan. Baru sekali ini deh kayaknya ngerasain ada rasa kekeluargaan ketika jalan bareng sama total strangers yang benar-benar baru saling kenal ketika mau naik kapal di Pelabuhan Merak kemarin. Teman-teman, kalian luar biasa!!!

Malam pun berlalu, setelah sebelumnya kami sempat berkecipak-kecipuk di tepi pantai, kegirangan karena ada “cahaya-cahaya” layaknya kunang-kunang ketika ombak menghempas pasir pantai. Cahaya yang berasal dari plankton/alga/kadar garam atau apalah itu terjadi karena adanya proses kimia oksigen yang terjadi. Keesokan harinya Dinda yang penasaran dengan fenomena alam ini bertanya ke juru kunci pulau, si bapak yang baik hati menerangkan kalau itu tanda kalau air laut lagi gak bagus untuk melaut. Hmmmm, nambah ilmu lagi kan? 🙂

Pulau Maitem

Hari kedua sekaligus hari terakhir kami habiskan dengan snorkeling di Pulau Maitem. Di sini terumbu karangnya lumayan “aman”, sedikit bebas dari patahan akibat fin perenang. Ikannya juga lumayan banyak. Di kedalaman sekitar lima meter saya sempat melihat ikan berwarna coklat, dengan motif totol seperti jerapa sepanjang sekitar 40cm. Sayang ikannya pemalu, jadi gak sempat saya abadikan. Biarlah dinikmati oleh mata pribadi saya saja ya..

Pulau Maitem yang berseberangan dengan Pulau Tegal ini juga terkenal dengan spot pasir timbulnya yang panjang hingga beberapa meter. Pemandangannya? Jangan ditanya!!! Indah tentu saja!!! Kalau air laut sedang surut, kamu bisa menyebrang ke Pulau Tegal via pasir timbul yang indah dan menawan. Uhuuuuyyy!!!! Di sepanjang kawasan pasir timbul ini juga banyak sekali nelayan lokal yang mencari kerang di sekitar pulau. Kami menghabiskan beberapa menit di pulau ini, mengabadikan foto layaknya Miranda Kerr-amik. Pulau ini jadi spot terakhir sebelum akhirnya kami bersiap-siap untuk pulang, kembali pada realita yang sudah menunggu kami.

Satu yang paling berkesan dari perjalanan kali ini adalah momen bersama-sama dengan orang-orang yang belum pernah saya temui sebelumnya. Obrolan-obrolan yang nyambung antara satu dengan lainnya. Pelajaran-pelajaran yang bisa saling didapatkan ketika kita bertukar pikiran. Jokes-jokes yang membuat suasana cair dan membuat perjalanan kali ini begitu istimewa. Ahhhhh, kalian begitu spesial!!! Perjalanan kali ini membuat saya merasa semakin “kaya”. Tidak selalu tentang materi, tapi persahabatan yang lahir di negeri Keripik Pisang Kepok ini begitu manis. Terimakasih untuk perjalanan yang sangat berkesan ini. Sampai jumpa di perjalanan lainnya.

IMG-20150418-WA0006

Note to be noted:

Saya gak akan capek untuk bilang, kalau mau snorkeling ya monggo silahkan. Tapi sebagai pengunjung/turis/backpacker/wisatawan/pecinta alam atau apa pun namanya, jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan. Masa kemarin saya nemu bungkus makanan ringan di antara terumbu karang, di laut ada swalayan apa??!?!! Selain itu kalau mau snorkeling jangan lupa untuk gunakan jaket keselamatan, terutama untuk yang gak bisa berenang, supaya kaki kamu gak ngerusak terumbu karang yang ada. INGAT!!! KITA BUKAN MEWARISKAN KEKAYAAN ALAM YANG ADA SEKARANG INI, TAPI KITA MEMINJAMNYA DARI ANAK CUCU KITA. JADI LEBIH BAIK DILESTARIKAN YAA… (capslock jebol). Ciaoooo, bella!!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s