Kawan, Ombak Tak Selamanya Hanya Tentang Lautan

You can’t stop the waves, but you can learn to surf – Jon Kabat-Zinn.

Halloooo para penjelajah, para pecinta alam, pecinta suasana baru dan semua orang yang mencintai Indonesia!!! (apeuudah!)

Hari ini saya ingin sharing sedikit kekayaan alam yang luar biasa. Kekayaan alam yang bisa membuat kita berdecak kagum akan kekuasaan Sang Maha Pencipta. Kalau kamu biasa traveling ke lautan pasti sudah gak asing lagi dong dengan yang namanya ombak. Yep! Ombak! Biasanya ombak ada dimana? Iya, benar! Di lautan. Tapi kali ini ada yang berbeda. Ombak yang selalu identik dengan lautan, kali ini justru berada di sebuah sungai. Masyarakat sekitar mengenalnya dengan nama Bono, yang artinya adalah ombak.

Sumber : indonesianbackpackers.com
Sumber : indonesianbackpackers.com

Sungai berombak ini cukup dikenal sebagai Muara Sungai Kampar, yang terletak di Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Ombak yang berada di sungai ini bukan sekedar gelombang yang ada di sungai dan danau kebanyakan yang timbul karena adanya arus air dan tiupan angin saja. Ombak di sini terjadi akibat adanya pertemuan arus air sungai yang akan bermuara kelautan, sekaligus adanya benturan dari air laut yang pasang hingga masuk ke aliran sungai dan tidak ketinggalan harus berada pada saat bulan purnama penuh (komplit yaa syaratnya!). Tidak tanggung-tanggung lho, ombak yang dikenal dengan nama Bono ini bisa mencapai ketinggian enam hingga sepuluh meter pada musim air pasang.

Jika diteliti secara ilmiah, fenomena alam ombak Bono ini sangat jarang terjadi. Ombak di aliran sungai seperti ini hanya ada di Indonesia dan Brasil!!! Ombak tinggi dan suara gemuruh yang dihasilkan oleh Bono adalah hasil dari benturan arus air dari Selat Malaka, Laut Cina Selatan, sekaligus aliran Sungai Kampar yang akan bermuara ke lautan. Jadi sangat tidak mengherankan jika benturan ombak ini dapat menghasilkan ombak yang biasanya dimanfaatkan para peselancar yang ingin menjajal kemampuan surfing di sungai air tawar. Yep! Surfing di air tawar. Kapan lagi kan bisa begitu.

Para penggila dunia selancar air biasanya mulai menjajal Ombak Bono ini pada musim penghujan. Masyarakat setempat bahkan meyakini, kalau ombak tertinggi di sungai ini bisa kamu jumpai ketika memasuki bulan Oktober hingga Desember. Sampai saat ini belum terlalu banyak masyarakat Indonesia yang mengetahui tentang kekayaan alam yang dimiliki oleh Sungai Kampar ini. Pada musim liburan, turis asing justru lebih banyak terlihat menghabiskan waktunya di spot ini.

Hmmmm, kemana aja yaaa orang-orang Indonesia? Eiiittss! Jangan keburu berburuk sangka!

Tidak bisa disalahkan juga sih sebenarnya ketidak tahuan masyarakat kita. Karena promosi sekaligus informasi dari keberadaan Ombak Bono ini sendiri masih sangat minim. Selain itu untuk menuju tempat ini juga sebenarnya agak sulit, karena terbatasnya transportasi umum. Pemerintah kita punya pekerjaan rumah yang cukup banyak nih untuk memajukan dunia pariwisata tanah air. Jangan sampai yaaa, kekayaan alam kita yang super eksotis seperti ini justru hanya dinikmati oleh warga negara asing saja.

Sumber : travel.kompas.com/Barry Kusuma
Sumber : travel.kompas.com/Barry Kusuma

Ombak Bono adalah “mimpi” tersendiri bagi para peselancar. Biasanya mereka yang ingin menguji adrenalin ke tempat ini akan memilih untuk menyewa mobil dari Kota Pekanbaru. Untuk sampai ke lokasi kamu harus mengendarai mobil selama enam hingga tujuh jam ke arah Desa Teluk Meranti.

Walaupun jadi pujaan para peselancar ombak Bono atau yang biasa juga dikenal dengan The Seven Ghost, karena memiliki tujuh lapisan ombak, kamu harus tetap ekstra hati-hati ya.. Karena cukup sering lho para peselancar menemukan buaya muara sepanjang lebih dari tiga meter, hingga ular phyton di kawasan ombak bono ini. Walaupun seringnya sih buaya-buaya ini akan bersembunyi ketika ombak bono datang, tapi kamu tetap wajib waspada dan wajib surfing dengan standar safety yang ada.

Indah kan negeri Indonesia kita yang tercinta ini. Tinggal kamu saja yang harus berani untuk mengeksplorasi semua kekayaan yang ada di dalamnya. Jangan lupa juga untuk terus menjaga kelestarian alamnya. Sekali lagi saya ingin menyampaikan kalau kita hanya meminjam segala keindahan yang ada di negeri pertiwi ini dari anak cucu kita. Artinya kita wajib untuk mengembalikannya, agar mereka bisa menikmati keindahan yang juga menjadi hak mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s