Sebelum Ke Luar Kota, Intip Dulu Wisata Sejarah Di Jakarta

I’m learning the power of going away for the weekend and keeping myself company – Zoe Saldana

Weekend telah tiba!!! Banyak sekali pilihan yang bisa dijajal untuk menghabiskan akhir pekan ini. Bisa dengan hanya menghabiskan waktu di rumah sambil nonton serial kesayangan kamu, mengunjungi keluarga atau mengelilingi objek wisata murah meriah di kota mu. Jalan-jalan tidak selalu harus ke luar kota kan?

Untuk kamu yang tinggal di Jakarta, opsi untuk menghabiskan akhir pekan termurah adalah dengan mengunjungi kepulauan seribu atau menambah kemacetan disekitar wilayah puncak. Apapun pilihan akhir pekan kamu, yang peting jaga terus kelestarian linkungan yaa..

Nah, berhubung saya saat ini berdomisili di Jakarta dan sedang nabung pula untuk trip selanjutnya, weekend kali ini saya putuskan untuk menghabiskannya di dalam kota saja. Tepatnya di sekitar Monas sampai Kota Tua yang termasyur namanya itu. Sekalian hunting mas bule, kali aja ada rejeki nomplok. (dukdesjamdukbet)

Pusat kota Jakarta sebenarnya menawarkan berbagai tempat wisata yang bisa dikunjungi. Misalnya saja Monumen Nasional atau Monas, Museum Mandiri, Museum Toko Merah, Kota Tua dan masih banyak lagi. Banyak yang mungkin merasa gengsi untuk mengunjungi tempat ini, sampai-sampai ada beberapa teman yan asli warga Jakarta tapi sama sekali tidak pernah menginjakkan kakinya ke halaman Monas!!! Yahhh, selera orang beda-beda sih yaa.. Mungkin cuma saya saja yang “kemure-han” diajak kemana aja mau. :’)

curvytraveler-missmotahari-monas

Anyway, tempat tujuan pertama yang saya kunjungi adalah Monas. Kalau menilik sejarahnya monumen satu ini adalah wujud dari kebesaran jaman pemerintahan Pak Harto. Monumen setinggi 132 meter dengan kubah emas di atasnya ini berdiri megah di pusat kota Jakarta. Ahhhh, kalo kubahnya dijual mungkin bisa digunakan untuk pelestarian penyu hijau kali yaa.. Hahaha ngaur!!!

Untuk memasuki halaman Monas kamu tidak perlu membayar sepeser pun. Karena pelatarannya ini terbuka untuk umum. Tapi kalau kamu mau sedikit bernostalgia, mengenang jaman dulunya Indonesia atau ingin melihat keindahan kota Jakarta dari ketinggian, kamu cukup membayar Rp. 5,000,- saja. Untuk yang berkunjung pada hari libur memang harus ekstra sabar yaa, karena lift yang digunakan untuk naik ke atas puncak Monas biasanya penuh dengan antrian. Yaaa, namanya liburan murah meriah senang, jadi memang ilmu sabar harus dipupuk dengan baik yah..

Sebenarnya saya bukan penggemar berat Monumen Nasional, saya lebih tertarik dengan kemegahan Patung Pancoran. Iyaaa!!! Patung Pancoran!!! Kenapa? Karena dari segi artistik patung yan dibangun di jamannya Pak Soekarno ini lebih megah dan unik. Coba bayangkan, dengan sudut kemiringan sedemikian rupa, bobot patung kokoh ini dapat berdiri dengan sempurna, tak goyah dimakan jaman. Sayangnya patung pancoran tidak dibuatkan pelataran. Jalan layang justru “memisahkan” patung gagah ini dari masyarakat. Sedikit bocoran jalan layang di sekitar patung ini dibuat di jamannya pak Harto, lho. (yang tahu sejarahnya pasti ngerti dehh.. 🙂

curvytraveler-mmissmotahari-museum

Bertolak ke kawasan Kota Tua, setelah berganti baju karena gerah, Museum Mandiri jadi pilihan saya. Banyak benda-benda jaman dulu yang dipajang rapi di sini. Untuk masuk kesini juga tidak perlu membayar, alias gratis. Malah bapak-bapak penjaganya sedikit membujuk saya untuk mau masuk ke dalam, katanya sudah jarang yang mau berkunjung kesini. Sedihnyaaaaa!!!

curvytraveler-mmissmotahari-mandiri

Tidak terlalu jauh berjalan, kaki saya pun sampai di Toko Merah. Kenapa namanya Toko Merah? Begini ceritanya! (gaya lo pan!)

Toko merah adalah saksi dari kejayaan Batavia di era kedudukan Belanda. Toko yan dari zaman dulu sudah dicat merah ini cukup sering berpindah tangan, bahkan sempat menjadi hotel megah bagi para bangsawan Belanda. Toko ini juga sempat disewa oleh seorang saudagar keturunan tionghoa yang berjualan berbagai kebutuhan untuk sembahyang.

curvytraveler-missmotahari-tokomerahh

Toko ini juga menyimpan sisi kelam tersendiri (berdasarkan cerita guide tempat ini ya), konon pada jaman penjajahan dulu tempat ini menjadi lokasi pembantaian masyarakat. Jenazah-jenazah dikumpulkan di semua sisi toko dan darah yang tumpah dikumpulkan dan digunakan untuk mengecat ulang toko. Kali yang berada tepat di depan toko ini dulunya pun sampai berwarna merah akibat tumpahan darah yang tak kunjung usai. Hiiiiiiii…. Bulu kuduk memang sempat merinding di sini.

curvytraveler-missmotahari-isitokomerah

Perjalanan ke Toko Merah adalah destinasi terakhir saya hari ini. Kaki rasanya sudah lelah berjalan. Cerita dan pengetahuan tetang zaman dulu juga sudah saya dapatkan. Saatnya untuk meluruskan kaki, menikmati sisa sejarah yang berdiri kokoh di Kota Tua. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya! 😉

curvytraveler-missmotahari-kotatua

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s