Worst Trip Ever – Ujung Kulon, Perjalanan Yang Tidak Terlupakan (part 2 – selesai)

And me, I still believe in paradise. But now at least I know it’s not some place you can look for, cause it’s not where you go it’s how you feel for a moment in your life when you’re a part of something and if you find that moment, It lasts forever – Leonardo Di Caprio, The Beach.

Hollaaaa!!!

Sudah lama sekali sejak postingan terakhir saya di blog ini. Mungkin cerita yang awalnya akan saya buat series-nya (biar kayak sinetron), keburu basi dimakan zaman. Hahahahha. Kali ini saya mau melanjutkan tulisan tentang perjalanan saya ke Ujung Kulon yang amat sangat tidak terlupakan (untuk yang belum baca bisa klik di Worst Trip Ever – Ujung Kulon, Perjalanan Yang Tidak Terlupakan (part 1). Jadi jangan buru-buru alihkan kuota internet kamu dari tulisan ini ya.. 🙂

Malam semakin memeluk erat langit. Udara dingin dari air conditioner elf yang kami tumpangi cukup membuat saya merasa nyaman di dalam mobil yang penuh sesak ini. Beberapa kali sang supir menghantam jalanan yang tidak rata, bahkan cenderung berlubang. Boro-boro untuk istirahat memejamkan mata, untuk bersandar dengan tenang di jok mobil saja tidak bisa.

Kota berganti desa, desa menjelma menjadi ladang, perlahan ladang pun berubah menjadi hutan yang rimbun. Gelap. Sunyi. Sepi. Temaram lampu di rumah warga yang masih terjaga sesekali terlihat dikejauhan. Beberapa kali mobil yang kami tumpangi memutar arah. Lebih tepatnya beberapa kali mobil ini nyasar! Iyaaaa!!! Nyasar!!!!

Usut punya usut sang supir tidak hafal dengan rute menuju penginapan tujuan kami kali ini. Beberapa kali mas driver yang ternyata bernama Sardi ini menepi dan bertanya pada warga yang masih terjaga. Diantara buramnya kaca mobil saya sempat melihat dan sedikit mendengar celetukan warga yang mengatakan, “Wahhh, sudah kelewatan lumayan jauh itu. Seharusnya lewat ……………”.

Otak saya mencernanya secara lambat. Mungkin efek kurang tidur selama beberapa hari sebelumnya. Baru ketika pintu mobil dibanting sang supir dan mesin mulai menyala, saya sadar KAMI SEDANG MERABA-RABA JALAN!!!!!!!!!!!!!!!!!!! TUHANNNNNN!!!!!!!! APA LAGI INI???? TIDAK KAH CUKUP SAYA GAGAL KE KARIMUNJAWA??? HARUSKAH JUGA NYASAR DITENGAH-TENGAH HUTAN BEGINI??????

Salah seorang peserta yang memang asli Pandeglang sempat nyeletuk, “jalannya gak kayak gini deh waktu gue jalan ke Ujung Kulon. bla… bla… bla…”, cuma itu yang bisa saya dengar dari kursi paling belakang mobil. Wahhhh, kalau pagi atau siang mungkin masih lumayan ya nyasar, bisa lihat kiri kanan. Walaupun hutan, tetap bisa membuat mata segar dengan pemandangan hijaunya kan? Miss Pandeglang pun mengarahkan supir kami menuju jalan yang “benar”. Walaupun tetap, beberapa kali kami salah belok dan akhirnya nyasar juga.

Ada yang bertanya soal Tour Leader kami? HAHAHAHAAHAHAHA, Sang TL TIDUR PULAS, setelah Miss Pandeglang menginstruksikan untuk tukar posisi duduk, supaya lebih mudah mengarahkan sang supir. Saya yang menyaksikannya dari temaram tempat duduk paling belakang mobil cuma bisa melongo. Kok bisa-bisanya dia tidur? Kan dia tahu kita lagi nyasar? Dia juga gak ada ngasih penjelasan tentang kondisi ter-update dari trip kami. Semua informasi justru datang dari Miss Pandeglang. Badan remuk akibat guncangan mobil dan lubang jalan cukup membuat saya naik darah. Syukurlah ada pacar yang bisa menenangkan hati, “Mungkin sebentar lagi kita sampai. Sabar ya..”.

Setelah beberapa kali bertanya pada warga, sekitar pukul 3 dini hari, elf kami sampai juga di penginapan Sarang Badak, Ujung Kulon. Sang pemilik atau mungkin penjaga penginapan menyambut kami dengan setermos air panas dan teh siap seduh. Merdu suara tokek dan jangkrik menambah semarak penginapan yang kami tempati. Ada tiga kamar, masing-masing dengan tempat tidur yang besar, serta ruang utama yang disulap sebagai tempat istirahat beberapa peserta laki-laki.

Beberapa peserta langsung menyerbu kamar mandi untuk cuci muka, berganti pakaian dan kemudian istirahat. Sambil menunggu antrian kamar mandi, saya berinisiatif untuk bertanya ke Sang TL tentang tujuan esok hari. “Belum pasti kemana, besok pasti dikabarin kita kemana kok”.

Lohhh? Katanya sudah sering bawa tamu kesini, tapi kok gak tau tujuan yang mau dikunjungi yang mana aja? Kalau udah pernah ya harusnya tinggal nerapin ulang aja gimana sistemnya kalau bawa tamu jalan kesini. Ohhhh, my!!!!! Saya membalas jawabannya dengan “ohhh, gitu…” yang dibumbui intonasi sinis dan kecewa bersamaan.

Saya pun bertanya lagi, apakah nantinya kita akan ke Sungai Cigenter yang ada di Handeuleum. Karena menurut beberapa referensi yang saya baca, canoing di sungai ini cukup menyenangkan. Selain itu hampir semua trip pasti akan mampir kesini ketika berkunjung ke Ujung Kulon. Jawaban si TL semakin membuat saya terkejut, “ngapain kesana? gak ada yang dilihat kan? Kalo menurut gue gak bagus. Mending nyari tempat yang lain”, ucapnya tanpa ekspresi yang saya balas dengan melongo.

Kesal sekali rasanya mendengar jawabannya. Kalau saja mau sedikit bersabar, cancel trip ini dan ikut dengan trip lainnya, mungkin saya benar-benar bisa menikmati Ujung Kulon, bahkan sampai ke Handeuleum. Ahhhh, tapi katanya besok ada tempat yang lebih baik lagi. Jadi ya sudahlah, mungkin akan ada tempat yang lebih bagus dari biasanya. Saya membawa semua rasa kesal yang berkecamuk ke alam mimpi, beristirahat dan mempersiapkan diri untuk perjalanan keesokan harinya.

Suara tokek tidak lagi terdengar. Sayup-sayup ayam jago berkokok dikejauhan. Pukul enam pagi sang pemilik atau penjaga penginapan sudah menyiapkan sarapan pagi untuk kami. Nasi goreng tawar. Bukaaannn, saya tidak sedang protes dengan menu makanan kali ini. Karena ada banyak hal epic lainnya yang siap membuat saya kecewa (keep scrolling).

Selesai mandi, lalu sarapan pagi kami pun bersiap untuk berangkat. Sebelumnya sang pemilik penginapan memberikan sedikit pengarahan tentang tujuan wisata pagi itu, yaitu Pulau Peucang. Tunggu, tunggu, Yep!!! Yang memberikan instruksi memang sang pemilik penginapan bukan TL kami, bahkan sang pemilik penginapan sudah menyediakan jasa warga lokal untuk mengantarkan kami kesana. Ya Tuhaaaannnnnn, kalau bisa dijabarkan dengan sedikit kasar, ini sih sistem calo namanya. Ada trip di dalam trip. Saya mulai pesimis dengan perjalanan kali ini.

Menuju Pulau Peucang

Kapal berlayar mengarungi lautan selama lebih dari dua jam, hingga akhirnya kami sampai di Pulau Pucang. Airnya yang biru, pasirnya yang putih, serta beberapa binatang liar seperti monyet dan babi tampak bermain di tepi pantai. Sejenak saya lupa dengan semua pengalaman mengecewakan sebelumnya. Sang TL lokal segera mengurus semua perijinan untuk tracking hutan menuju Karang Copong, yang katanya mirip dengan Tanah Lot-nya Bali.

Welcome to Peucang Island

Kami pun mulai menyusuri hutan dengan ditemani Pak Rasyid yang merupakan penjaga di Pulau Peucang. Beliau sudah tinggal di wilayah ini selama belasan tahun dengan beberapa orang penjaga lainnya. Dalam sehari, beliau bisa bolak balik mengantar tamu ke Karang Copong sampai lima kali.

CAMERA

Di dalam hutan Pulau Peucang, kami sempat berpapasan dengan ibu babi hutan dan tiga ekor anaknya. Selain itu kawanan rusa juga tampak dari kejauhan. Begitu kami mendekat, kawanan rusa ini buru-buru kabur menjauh. Dikejauhan suara burung merak terdengar nyaring. Sayang sosoknya tak sempat kami temui.

Salah Satu Penghuni Pulau Peucang
Salah Satu Penghuni Pulau Peucang

Ditengah perjalanan menuju Karang Copong, hujan deras mengguyur. Namun tetesan hujan ini tetap tidak mengganggu langkah kami, ya mau berteduh dimana juga kan hujan deras begini. Tidak berapa lama lautan luas terpampang dihadapan kami. Lautan dengan pinggiran batu-batu karang yang tajam dan licin. Di kejauhan ada batu karang yang cukup besar, berdiri kokoh, bersiap menerima hantaman ombak.

Hujan tak menghalangi langkah kami untuk melihat Karang Copong atau yang bisa diartikan dengan Karang Bolong dari ketinggian. Seperti namanya, batu karang ini memang terlihat berlubang. Di dalamnya hidup kawanan kelelawar yang akan mulai beraktivitas saat mentari kembali ke peraduan. Tanjakan dengan tanah yang licin, plus alat pengaman yang seadanya, sebenarnya merupakan harga yang terlalu mahal ketika mengingat resiko yang bisa saja terjadi pada kami. Saya pribadi cukup kecewa, hujan membuat jarak pandang menjadi terbatas. Lautan biru yang seharusnya begitu indah tak dapat saya nikmati.

The Magical of Karang Copong
The Magical of Karang Copong
Karang Copong dan Hujan
Karang Copong dan Hujan

Puas “menikmati” Karang Copong ditengah derasnya hujan, kami pun bergegas kembali. Di tengah perjalanan hujan pun reda, membuat hati saya bertanya, “kenapa gak reda dari tadi sihh??!!!??”. Tapi mau protes juga bagaimana? Mau marah sama apa? Siapa? Alam? Tuhan? Dikutuk jadi pasir yang ada ntar!

Tuna goreng, tumis tuna, nasi hangat, sayur kangkung dan mie goreng sudah menunggu kami di kapal. Setelah sedikit membersihkan diri, kami langsung menyerbu menu yang sudah disajikan. Berhubung lapar, semua makanan yang tersaji habis hanya dalam hitungan menit. TL lokal yang kami temui di penginapan menginstruksikan agenda wisata kami selanjutnya, yaitu snorkeling di sisi barat pulau Peucang.

Terumbu karangnya mungkin tidak terlalu beragam atau berwarna-warni. Tapi ikan-ikan yang ada di sini lumayan besar-besar. Berenang di antaranya membuat saya begitu senang. Lumayanlah untuk sekedar temu kangen dengan biota laut yang ada di dalamnya. Lebih kurang kami hanya diberikan waktu sekitar 30 menit untuk menikmati isi laut Pulau Peucang. “Pindah ke spot yang ada di sana”, kata TL lokal kami sambil menunjuk ke kejauhan. TL kami dari Jakarta? Entahlah, dia tampaknya sedang berlibur juga kesini. Menikmati semua fasilitas dari uang kami para pesertanya.

Nemo di Peucang
Nemo di Peucang

Sekitar sepuluh menit menyebrang, kami sampai di spot yang tadi ditunjuk si TL lokal. Terumbu karangnya masih kecil-kecil dan lagi banyak ubur-ubur benang yang dengan senang hati menyengat kami. Beberapa orang panik ketika terkena sengatan sang ubur-ubur. Kami buru-buru naik ke kapal dan pindah ke spot selanjutnya yang ada di kawasan Citerjun. Di sini terumbu karangnya berada jauh di tepian, sementara kami diturunkan tepat di tengah lautan. Belum sampai ke tepian, gerombolan ubur-ubur benang mulai mendekat. Kami pun buru-buru naik ke kapal. Semakin mendekati kapal, semakin banyak ubur-uburnya. Habislah badan yang hanya memakai celana pendek dan tankini ini disengat ubur-ubur. Belum lagi hujan yang mulai turun lagi dengan derasnya. Udara dingin dan kami pun pasrah akan kencangnya angin di lautan saat itu.

Tapi ini belum seberapa, sekitar lima belas menit kemudian, kapal yang berlayar dibawah derasnya hujan dan kencangnya angin ini mendadak berhenti. Setelah konfirmasi ke juru mudi perahu, ternyata oli kapal habis dan ada air yang masuk ke mesin, sehingga mereka harus menguras air ini terlebih dahulu. Sekitar satu jam kami menunggu tanpa ada kepastian, baik dari TL lokal maupun TL yang kami kenal dari Jakarta, akhirnya kapal pun bisa kembali berlayar. Saya menyambutnya dengan helaan nafas lega.

Namun kami masih saja diuji!!!!

Sekitar 10 menit berlayar, perahu yang kami tumpangi lagi-lagi mati. Tidak ada satu pun yang memberikan informasi apa yang sedang terjadi, sampai akhirnya saya mencuri dengar dari sang juru mudi kapal yang meminta pertolongan dari pelabuhan Sumur agar bisa menarik perahu kami. Perahu kami mati total, mesinnya rusak tepat di kawasan Cinini. Tuhaaannnn!!! Untuk menuju ke kawasan ini saja dari pelabuhan Sumur butuh waktu dua jam, dan sekarang sudah jam 7 malam, mau sampai ke penginapan jam berapa?!!!????!!! Lemas sekali rasanya mendengar telepon sang juru mudi ini.

Saya celingak celinguk mencari sang TL, TL lokal sibuk mengamati mesin dengan si juru mudi, sementara TL dari Jakarta sedang tertidur pulas di belakang kapal. Iya!!!! Tepat sekali!!!!!! Dia tidur!!! Tanpa memberikan konfirmasi apa pun!!! Bahkan tidak mencoba untuk basa-basi sedikit meminta maaf atas kondisi ini.

Jam demi jam berlalu. Malam sudah semakin gelap. Di kejauhan titik cahaya kapal menemani kami. Kami bahkan sempat menggunakan lampu flash handphone yang ditujukan untuk mengirim sinyal SOS ke kapal terdekat. Tapi tak ada respon. Kapal yang berjanji menjemput kami pun tak kunjung datang. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, semakin gelap, semakin dingin dan kami berada di tengah lautan yang ombaknya semakin kencang.

Lampu Kapal di Kejauhan
Lampu Kapal di Kejauhan

Beberapa peserta mencoba untuk mencairkan suasana dengan bermain tebak kata. Tapi saya tidak tertarik, kesaaaaaaalll sekali rasanya!!! Yang semakin membuat dongkol, ketika si TL dari Jakarta bertanya dengan polos, “Kita udah dimana nih? Kapalnya masih mati ya?”, sangat mengejutkan! Pertanyaan paling fantastis! Ingin sekali saya teriak di mukanya, mempertanyakan profesionalitasnya sebagai seorang TOUR LEADER!!!!

Lagi-lagi saya diminta bersabar oleh sang pacar. Hmmmm, untung ada yang bisa menenangkan hati begini :’)

Beberapa menit kemudian kapal yang akan menarik perahu kami pun datang. Sebagian dari kami memutuskan untuk tidur, dengan baju lembab, tubuh yang lelah, angin yang semakin kencang dan udara yang bertambah dingin. Pukul 23.45 WIB kami sampai di pelabuhan, masih tanpa ada kata-kata penjelasan lebih lanjut dari si TL yang super profesional.

Keesokan harinya tujuan wisata kami adalah Pulau Oar. Dengan perahu nelayan kecil, kami menyebrangi lautan. Lagi-lagi nyawa jadi taruhan. Karena perahunya sangat kecil, dan kami tidak dilengkapi dengan pelampung. Syukurlah Pulau Oar tidak begitu mengecewakan. Terumbu karangnya sangat bagus. Saya pribadi puas dengan pemandangan bawah airnya. Ekosistemnya begitu berwarna dan cukup terjaga, walaupun di beberapa titik ada terumbu yang terlihat patah. “Mungkin karena ombak”, pikir saya positif.

CAMERA

Berdasarkan jadwal seharusnya kami mengunjungi satu pulau lainnya dengan agenda snorkeling. Namun berhubung sebagian besar wanita di grup ini takut hitam dan takut panas-panasan (pengen saya tabokin satu-satu deh waktu itu, ngapain main ke laut kalo takut panas??!!!???!!!) akhirnya sang TL profesional dari Jakarta memutuskan untuk pulang ke penginapan yang sambut dengan cibirang secara terang-terangan, “Ohhh, begitu ya jadwal perjalanan lo!”, ungkap saya kesal sambil berlalu. Pasrah. Naik ke perahu, kemudian pulang ke penginapan.

Kami langsung membersihkan diri dan packing begitu sampai di penginapan. Tanpa babibu dan setelah ngomong dengan si TL saya request duduk di seat kedua dengan alasan, “capek duduk di belakang, gantian boleh kan?”, yang dia balas dengan anggukan pasrah. Saya tak lagi banyak bicara, apalagi menebar senyum.

Beberapa peserta lainnya, yang juga sama kesalnya, berkali-kali bilang, “enggak lagi deh jalan kalau begini ceritanya. Cuma dapet capek!”, tentunya mereka mengutarakannya dengan suara yang dibesar-besarkan. Supaya si TL dengar katanya.

Perjalanan selama lebih kurang tujuh jam kami lewati dengan suasana yang senyap. Makan malam pun kami memutuskan untuk saling memisahkan diri. Tepat pukul 20.30 WIB gemerlap kota Jakarta mulai menjadi pemandangan kami. Tidak pernah saya serindu ini dengan Kota Jakarta.

Perjalanan ke Ujung Kulon memberikan banyak cerita. Banyak cerita duka, mungkin lebih tepatnya. Enggak lagi-lagi deh saya pergi dengan model TL seperti ini. Enggak lagi-lagi deh saya pakai jasa dia. Dari namanya saja sudah mengatai orang sebagai anjing (jika diartikan dalam Bahasa Indonesia “Anjing-Anjing Jalan-Jalan”), namanya memang bukan doa yang bagus, ini mencerminkan servis yang mereka berikan kepada para peserta.

Memang akan selalu ada yang pertama dalam setiap perjalanan. Dan ini adalah pertama kalinya saya sangat membenci perjalanan saya. Perjalanan yang melelahkan, perjalanan yang begitu banyak melanggar aturan keamanan dan perjalanan yang tidak sesuai dengan biaya yang saya keluarkan. Selalu ada yang pertama. Jadi lebih cermat ya dalam mempercayakan liburan kamu ke seorang Tour Leader.

Advertisements

5 thoughts on “Worst Trip Ever – Ujung Kulon, Perjalanan Yang Tidak Terlupakan (part 2 – selesai)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s