Sehat Itu (gak) Mahal!!!

The food you eat can be either the safest and the most powerful form of medicine or the slowest form of poison – Ann Wigmore.

Kali ini gue pengen sedikit sharing soal kesehatan. Karena gue terang-terangan mengalami sendiri momen “Sehat Itu Mahal”. Tapi tenang aja, gue gak akan jadi agen asuransi dalam tulisan kali ini kok. Keep reading!

Beberapa hari yang lalu gue didiagnosa dokter terkena kista di luar rahim. Ukuran kista gue udah termasuk gede banget, dengan ukuran 10cm x 8cm x 6 cm. It was a big chunk inside my body!!!

Kalau dirunut riwayat kesehatan yang gue miliki, (alm) nyokap memang sedikit banyak mewariskan faktor genetik ini ke gue. Ditambah lagi gue termasuk satu dari banyak perempuan yang kena jatah menstruasi pertama kali di usia yang sangat muda, 12 tahun.

Kebanyakan orang yang terkena kista sebenarnya memiliki pilihan untuk tidak melakukan prosedur operasi. Namun semuanya kembali ke kondisi pasien masing-masing. Dalam kasus gue, kista yang bersarang di luar saluran ovarium sebelah kiri gue sudah terlalu membesar, sehingga menekan dinding rahim gue. Kalaulah gue lagi program untuk punya anak, mungkin si kista bandel ini akan jadi penghalang proses tersebut.

Yang lebih complicated lagi kista yang bersarang ditubuh gue melilit saluran ovarium gue yang ada di sebelah kanan!!! Can you imagine that?!!??!! 

Yep! Kistanya ada di sebelah kiri, tapi melilit saluran ovarium yang ada di sebelah kanan!!!

Menurut prediksi dokter proses membesarnya kista ini sudah terjadi selama 4 bulan belakangan ini. Dan gue sama sekali gak ngerasain hal-hal aneh yang terjadi di dalam tubuh gue, terutama di bagian perut. Sementara proses melilitnya kista ke saluran ovarium sebelah kanan diprediksi sudah terjadi sejak 1 minggu sebelum gue merasakan nyeri yang luar biasa pada 24 Februari 2016 yang lalu. And again, I didn’t have any clue about it!!! Gue benar-benar gak ngerasain sakit apapun sebelumnya.

Gue baru mutusin untuk pergi ke dokter pada 25 Februari 2016 jam 4 subuh, karena nyeri di perut udah gak bisa gue tolerir lagi. Gue milih untuk minta diantarkan ke Rumah Sakit Siloam Kebon Jeruk, karena jaraknya yang tidak terlalu jauh dari kosan. Walaupun gue tahu banget kalau rumah sakit ini mahal banget!

Dokter UGD yang menangani gue, minta gue untuk ngejalanin test urin. “Siapa tahu ada infeksi saluran kencing”, begitu katanya. Satu jam kemudian hasil test lab keluar, dan hasilnya saluran pipis gue normal. Dokter kemudian minta gue untuk test USG, “Kalau urin kamu normal dan gak ada keluhan selama haid, bisa jadi masalahnya ada di usus buntu”, kata si dokter lagi.

Sekitar jam 9 pagi gue baru bisa di USG, karena dokter yang bisa melakukan prosedur USG sedang kebanjiran pasien. Dari kacamata sang dokter, dia justru melihat kondisi usus buntu gue dalam ukuran yang normal, tapi memang ada kista dengan ukuran yang cukup besar.

Gue langsung diarahkan ke dokter spesialis kandungan. Voila! Dokter menyatakan bahwa gue memiliki kista dengan ukuran yang cukup besar dan harus dioperasi secepatnya. Kalau jari lo diikat pakai karet selama berhari-hari, kemungkinan sel-sel di jari lo untuk mati akan besar banget, karena jaringan yang terikat tidak dialiri oleh darah. Makin lama lo biarin, semakin besar juga kemungkinan lo kehilangan jari lo. Itulah yang terjadi pada gue.

Dokter ngotot minta gue untuk melakukan operasi pada hari itu juga, karena kista yang gue punya udah melilit saluran ovarium di sebelah kanan gue sebanyak 5 kali!!! Jika prosedur operasi harus diundur, dokter khawatir ovarium kanan gue juga harus diangkat. Tentu hal ini akan sangat disayangkan jika sampai terjadi, terutama karena gue BELUM MENIKAH dan tentu saja BELUM PERNAH MEMILIKI ANAK.

Gue belum pernah operasi sekalipun dan baru kali itu gue benar-benar ngerasa sendiri. Orang tua dan saudara semuanya ada di Pekanbaru, sementara si pacar mau gak mau harus berangkat ke kantor, karena ada pekerjaan yang gak bisa ditinggalkan.

Baru sekitar jam 12 siang teman kantor, sekaligus sahabat, sekaligus kakak, Kak Ismi, datang buat dampingi gue. Jadwal operasi yang tadinya direncanakan akan dilakukan jam 7 malam, dipercepat jadi jam 3 sore karena mempertimbangkan kondisi gue.

Proses operasi dilakukan selama 1 jam, gue juga baru siuman setelah 2 jam di kamar observasi pasien. Sekitar jam 5 atau jam 6 sore gue dibawa balik ke kamar rawat inap. Dokter kandungan, Firman Santoso, yang menangani kasus gue cerita kalau operasi berjalan lancar dan ovarium gue bisa selamat. Cuma dokter terpaksa motong saluran ovarium sebelah kanan karena jaringannya sudah terlanjur rusak. Walau dokter bilang semuanya sudah baik-baik saja, gue dihadapkan pada kekhawatiran baru, “ntar gue bisa punya anak gak yaa???”. Walau dokter membesarkan hati gue dengan bilang, “Gak ada masalah kok Mbak soal kandungannya. Mbak nantinya akan tetap bisa punya anak kok. Tenang saja..”

Lika-liku pengobatan gue gak sampai di situ aja. Setelah rawat inap selama 2 malam gue diijinkan untuk pulang. Berbekal kartu asuransi dan wejangan dari staff kantor yang meng-handle masalah asuransi, pacar gue turun untuk menyelesaikan masalah administrasi.

Total biaya yang habis untuk operasi dan seluruh biaya pengobatannya mencapai 34 juta rupiah lebih. Lebih dari separuh biaya ditanggung oleh asuransi, tapi tetap saja ada kelebihan biaya yang nantinya harus gue cicil pembayarannya ke kantor.

Sakit itu memang ribet dan mahal banget!!!

Makanya penting banget untuk menjaga kesehatan dimanapun lo berada. Khusus untuk perempuan, please be aware of you reproduction system!!! Karena kadang penyakit datang tanpa bilang permisi terlebih dahulu!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s