Gili Labak: Surga Tersembunyi, Surga yang Dilupakan

Travel brings power and love back into your life – Rumi.

 

Long time no trip!!!

Akhirnya setelah penantian panjang, gue bisa nyicipin air asin lagi. Kali ini kota penghasil garam, Madura, jadi tujuan short escape dari rasa  rindu yang sudah bergelayut di hati.

Beberapa hari yang lalu, tim program gue ngadain acara di Surabaya. Begitu acara itu selesai, gue dan beberapa orang teman, memutuskan untuk memperpanjang kunjungan di Surabaya. Bukannya stay di Surabaya, kita memilih untuk jalan ke Madura.

Ke Gili Labak lebih tepatnya. Kabarnya pulau ini mulai terkenal dengan keindahan, baik di atas atau di bawah perairannya. The Hidden Paradise, begitu kata orang-orang. Gue pun merasa semakin tertantang untuk berkunjung ke pulau ini.

Setelah review blog sana sini, lagi-lagi open trip menjadi pilihan yang masuk akal untuk menghabiskan satu hari penuh di Gili Labak. Why?

Pertama, untuk menuju Kabupaten Sumenep,  Madura kita membutuhkan waktu sekitar 4 hingga 5 jam jalur darat dari Surabaya. Kalau menggunakan angkutan umum, biayanya bisa mencapai 100 ribu rupiah PP.

Kedua, sesampai di Sumenep kita harus sewa perahu untuk menyebrang ke Gili Labak. Ongkos yang harus dikeluarkan sekitar 500 ribu hingga 700 ribu rupiah di pelabuhan Kalianget, Sumenep. Hanya saja, untuk menyewa perahu harus jauh-jauh hari, karena kebanyakan perahu yang ada di sana sudah disewa oleh operator travel yang menuju ke Gili Labak juga.

Ketiga, biaya makan dan biaya-biaya yang tak terduga juga harus diperhitungkan selama berada di pulau.

Setelah hitung sana sini, sepertinya terlalu mahal kalau kami berangkat ngeteng menuju ke Gili Labak. Browsing sana-sini, akhirnya gue dan teman-teman menemukan satu travel agent yang memberikan harga sangat bersahabat dengan fasilitas yang sangat nyaman.

Hanya dengan 199 ribu rupiah, kita bisa sampai di Gili Labak!!! HOREEE!!!! Naluri irit emang gak boleh hilang dari jiwa-jiwa traveler!

Tanggal 15 April 2016, setelah syuting yang panjang dan melelahkan, akhirnya kami bersiap menuju meeting point di Stasiun Gubeng Baru. Bermodalkan keberanian dan rasa butuh piknik, kami (3 orang cewek yang mengaku perawan, ahahahahah) memutuskan untuk memesan ojek online.

Jam di pergelangan tangan sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Abang gojek pun sudah standby di depan lobby hotel tempat kami menginap. Sepanjang perjalanan gue bertukar cerita dengan si abang gojek bernama Mukhlis. Sengaja, untuk menutupi rasa resah karena di tengah perjalanan gue terpisah dengan rombongan gojek lainnya. Hmmmmm, semoga yang lain baik-baik saja.

Sepanjang perjalanan Bang Mukhlis mengaku masih single dan menyayangkan status gue yang juga belom menikah. Dia juga curhat soal sulitnya mencari pekerjaan saat ini.

“Waaahhh, harusnya udah nikah, Mbak.. Kan sudah mapan, pasti banyak yang mau.. Jangan kelamaan, nanti kaya saya, kelamaan jomblo..”

Begitu kira-kira curhatan Bang Mukhlis yang mengaku baru saja keluar dari pekerjaan tetapnya sebagai marketing merk cat ternama di negeri ini.

Sekitar 15 menit akhirnya gue sampai di stasiun dengan nama Surabaya Gubeng. Sempat ragu, karena janjiannya kan di Stasiun Gubeng Baru. Bermodalkan pede gue bertanya sama bapak-bapak pedagang asongan di pinggir jalan.

“Iyaa, ini Gubeng Baru.. Mau kemana neng?” begitu katanya.

“Ke Madura pak…”

“Lahhhh, ndak ada kereta ke Madura..”

“Hehehe.. Iyaa pak.. Ke Madura naik mobil. Janjian di sini..”

Si Bapak mengangguk sambil berpesan untuk hati-hati di jalan.

Gue buru-buru menghubungi tour leader travel ini. Mbak esa, namanya. Dia sudah menunggu di depan ATM BNI bersama dengan peserta lainnya. Setelah kenalan dan ngobrol ngalur ngidul, Widya (partner satu program gue) akhirnya sampai di stasiun.

Gue dan Widya mutusin untuk makan pecel ayam di depan stasiun, karena kita berdua sama-sama belum makan setelah selesai syuting. “Sekalian nungguin Tia..” kata Widya sebelum kami memesan 1 porsi pecel ayam dan 1 porsi rempelo ati dan nasi. Walaupun hanya makanan pinggir jalan, tapi nasi pecel depan stasiun ini enak banget!!! Sambelnya pedas, cocok dengan lidah Sumatera yang manja banget sama sambel yang pedes!!!

Sekitar 10 menit kemudian Tia sampai di depan stasiun. Mbak Esa pun sudah beberapa kali memanggil kami untuk segera menuju ke mobil dan berangkat ke Sumenep. Pertama kali kami naik ke atas mobil, Mbak Esa sudah menyediakan kami sebotol air mineral lengkap dengan roti.

“Mobilnya nyaman, dapet snack juga… Ini sih bagus..” pikir gue.

Ikut open trip itu mirip dengan main judi. Sekalinya untung dapet yang murah dan bagus, tapi kalau sekalinya apes dapet yang bobrok dan mahal!!! Baca deh Worst Trip Ever – Ujung Kulon, Perjalanan yang Tidak Terlupakan (part 1) dan Worst Trip Ever – Ujung Kulon, Perjalanan Yang Tidak Terlupakan (part 2 – selesai)

Malam rasanya terlewati dengan cukup tentram. Walaupun si abang driver tidak terlalu smooth ketika menyetir long elf yang kami tumpangi. Berhubung terlalu capek, gue tidur udah kayak orang mati. GAK SADAR!!!

Sekitar jam 4 pagi, kami sampai di basecamp sekitar pelabuhan Kalianget, Sumenep. Short info nih, di Madura ada 4 kabupaten dan Sumenep adalah kabupaten paling ujung dan yang paling jauh dari pusat Kota Surabaya.

Pagi itu kami disuguhkan dengan sepiring nasi, lengkap dengan lauknya. Meski terlihat sederhana tapi rasanya enak banget!!! Pengen nambah, tapi kok yaa malu.. hehehe..

AoTH88J3aHo-63EKndBY_n5IEq9Hd1q2wBYqv5sBH1CG
Muka Bahagia Pengen Piknik

Jam 05:30 matahari sudah bersinar cukup terang di dermaga Kalianget. Abil, tour leader yang akan menemani kami menginstruksikan untuk bergegas menuju ke pelabuhan.

AgW3TMY4Hixqoq8sjbK5GQ7YPi2kvON7VsugkDZrq66t
Antara Sunrise, Widya dan LDR… 😀

Sesampai di pelabuhan jejeran perahu nelayan yang dihias sedemikian rupa menarik rasa penasaran saya. “Baru-baru ini ada acara selametan gitu mbak.. Makanya kapal dihias bagus begini…” kata Abil begitu saya tanyai tentang perahu warna-warni.

Di kapal kami tidak kebagian duduk di bagian bawah perahu. Mau duduk di bagian dalam kok ya rasanya mainstream. Kami memutuskan untuk duduk di atap kapal bersama rombongan 5 pria lainnya, yang sampai akhir trip tidak kami ketahui namanya, tapi diajakin ngobrol ngalor ngidul kesana-sini.

AluylqWBKM8x2aOkkrP_92EWcCQkHP1u_LWIwHM5gsoF
Mereka yang sampai akhir trip tidak kami kenal namanya..

Sekitar 1,5 jam kemudian kami sampai di Pulau Gili Labak. Pulaunya cantik! Hamparan pasir putihnya memanggil untuk ditiduri, gradasi air 3 warnanya menggoda untuk dijamahi. Kangen air asinnn!!!

Rasanya senang sekali ketika Abil menginstruksikan kami untuk snorkeling terlebih dulu. Tanpa basa basi gue langsung nyebur, airnya hangat layaknya perairan Indonesia pada umumnya.

Namun saya kecewa!!!

Selain karena visibility bawah air yang tidak baik, hampir 100 persen terumbu karang yang ada di kawasan ini rusak parah!! Memang banyak ikan karang yang seliweran kesana sini, tapi hamparan acropora yang ada di sini hancur. RUSAK PARAH!!!!!!!

Sedih, kecewa, semuanya campur aduk jadi satu. Tempat ini belum begitu populer, tapi kenapa sudah separah ini kerusakannya. Kenapa manusia cuma bisa ngerusak!!!!!!!!

Gak ada yang bisa gue nikmati dari bawah air Pulau Gili Labak. Selidik punya selidik, ternyata memang kesadaran penduduk di sekitar kawasan masih sangat minim terhadap terumbu karang. Banyak perahu yang kadang suka maksa untuk menepi di tepi pantai, dengan menerobos hamparan terumbu karang. Sehingga banyak karang yang mati. Sampai sekarang kabarnya belum ada rencana untuk menanam kembali terumbu karang yang sudah rusak.

KECEWA!!!! KECEWA!!!! KECEWA!!!!

AoQmTASafS6yt4-tou_NngIaizX-arkwOizoE5Q8qaxE

Abil menginstruksikan seluruh peserta untuk naik ke kapal. Waktunya untuk menjelajahi pulau, katanya. Di pulau Abil menemani kami berkeliling. Abil bercerita cukup banyak soal fakta unik Pulau Gili Labak. Sebelum terkenal dan dikunjungi wisatawan, masyarakat di pulau ini bekerja sebagai nelayan, membuat garam dan bertani rumput laut. Selain itu tidak ada air tawar atau pun air payau di Gili Labak. Pengunjung harus membayar sebesar 10 ribu rupiah jika mau menggunakan air tawar untuk membilas diri.

Puas berkeliling pulau, berenang kesana sini, tepat pukul 2 siang Abil kembali menginstruksikan kami untuk menuju kapal. Sudah waktunya untuk pulang menuju dermaga Kalianget.

Gili Labak adalah cerminan surga tersembunyi yang dimiliki Indonesia. Keindahan alamnya begitu memanjakan mata. Namun Gili Labak juga merupakan surga yang dilupakan oleh masyarakat, masyarakat lupa betapa pentingnya menjaga ekosistem lautan. Masyarakat lupa bahwa terumbu karang punya dampak yang penting bagi perairan Indonesia dan dampak ekonomis yang menguntungkan jika terawat dengan baik.

AqrAMnPVTs3Z4FZElkzJdtjq0VK1ZX8rmn6g5X48BI20

AoP93yPPRMWYkGQChZ0qPk-xtr3KmeYzeKP4NylyVCD7
Antara Tia, Pantai dan Kenangan yang Tak Bisa Hilang
AuGjcBtqTsyQJLz7glaWDGp8gFZLiVljGHX9m_A0R009
Sampai Jumpa Gili Labak

GILI LABAK, SUNGGUH KAU SURGA YANG TERSEMBUNYI, SURGA YANG DILUPAKAN…

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s