Magisnya Anak Gunung Krakatau (part 1)

If your heart is a volcano, how shall you expect flowers to bloom? – Khalil Gibran

Menelisik Gunung Krakatau sama dengan menelusuri sejarah dunia. Ketika sebuah ledakan dahsyat membuat matahari tak mampu menyinari bumi. Ketika sebuah ledakan dahsyat menuntut banyak makhluk hidup untuk berevolusi.

Pasti banyak yang sudah tahu bagaimana dahsyatnya ledakan Gunung Krakatau pada tahun 1883. Abu vulkanik akibat letusannya mampu menghalangi sinar matahari selama satu tahun. Bahkan abu vulkaniknya terbawa angin hingga menutupi langit Norwegia dan New York. Namun letusan dahsyat ini tak selamanya menjadi bencana, sebab secara perlahan lahirlah sang anak yang kini kita sebut sebagai Anak Gunung Krakatau.

Well, mungkin cukup segitu dulu cerita sejarahnya. Untuk yang masih penasaran dengan sejarah Anak Gunung Krakatu, mungkin bisa browsing lebih lanjut. Back to backpacking story.. .

Anak Gunung Krakatau menjadi salah satu tujuan liburan gue, si pacar dan teman-temannya beberapa bulan yang lalu. Perjalanan kami (gue dan si pacar) di mulai dari terminal bayangan di gerbang tol Kebon Jeruk.

Sekitar jam 9 malam, setelah izin untuk pulang lebih awal (padahal waktu itu sedang tapping program, hehehehhehe) gue dan si pacar bergegas menuju gerbang tol untuk mengejar bus tujuan Pelabuhan Merak. Cukup ramai bus yang nge-tem di terminal bayangan ini. Banyak juga calon penumpang yang bergegas duduk di bus-bus pilihannya. Maklum saja, ini akhir pekan. Pasti banyak yang liburan atau yang ingin pulang ke rumah, bagi orang-orang yang mengadu nasib di Jakarta

Perjalanan Kebon Jeruk – Pelabuhan Merak memakan waktu sekitar 2 jam 30 menit dengan macet yang tidak terlalu parah. Tepat jam 12 malam kami sampai di pelabuhan. Beberapa orang teman sudah menunggu di pelabuhan. Setelah seluruh personil jalan-jalan komplit, kami pun bergegas untuk membeli tiket kapal ferry menuju Pelabuhan Bakauheni.

Sekitar jam 3 pagi kami sudah menginjakkan kaki di kota pisang kepok. Mulai dari abang bus, abang angkot, abang ojek, semuanya berusaha menarik perhatian kami supaya kami mau naik ke kendaraannya. Inilah salah satu strategi masyarakat dalam mengadu nasib demi beberapa lembar rupiah.

Setelah tawar-tawaran harga, kami pun mencarter 2 unit angkot yang akan mengantarkan kami ke Pelabuhan Canti, Kalianda. Rasanya ngantuuuuuuk bangetttt!!! Gue pun memilih untuk duduk di pojok angkot, ditumpuki dengan banyak tas dan alat snorkeling. Tapi kantuk lebih menguasai, sehingga tambahan perjalanan sekitar 3 jam lagi gue habiskan dengan tertidur layaknya orang mati. Pulas. Nyenyak. Bahagia.

Tidur selama perjalanan sebenarnya gak gue banget. Gue malah punya kecenderungan gak bisa tidur setiap kali dalam sebuah perjalanan. Misalny saja kalau gue punya jadwal flight pagi, gue jamin gue gak bakal pernah bisa tidur semalaman. Mungkin gue punya anxiety pada perjalanan pagi hari. Hahahahaha, I’m not a morning person, I guess!!!

Sekitar jam 6.30 pagi kami sampai di dermaga Canti. Gue masih tidur di pojokan angkot, sampai si pacar ngebangunin. Huaaahhhhh, tidur yang membahagiakan. Nyenyak banget rasanya. Tour guide kami mempersilahkan kami untuk bersiap-siap dan sarapan pagi, karena sekitar 30 menit lagi kami akan segera berangkat menuju pulau-pulau tujuan.

Segelas kopi hitam khas lampung dan roti cokelat sisa semalam menjadi menu pembuka hari itu. Tidur nyenyak, makan pun jadi semangat. Sepertinya gue beneran bahagia hari itu.

Selama menunggu kami diberi kesempatan untuk berkenalan satu sama lain, mostly sih teman-teman sekantor pacar gue, tapi ada beberapa orang baru yang seru diajak ngobrol.

Orang pertama adalah UDA!!! Pergi kemana aja tetep ya ketemunya orang sekampung. Gue memanggilnya dengan uda, usianya lebih tua sekitar 8 tahun dari kami. Dia menetap di Jakarta pun sudah lebih lama dari kami yang anak kemarin sore ini. Dia bekerja sebagai penata rambut di salah satu salon kenamaan di Jakarta. Hobinya? JALAN-JALAN!!! Coba sebutkan satu tempat menarik di Indonesia, dia pasti sudah pernah mengunjunginya. Wawasannya soal objek wisata di berbagai tempat wisata patut diacungi jempol. Gue dan uda pun sempat bertukar nomor telepon, berencana untuk membuat satu trip planning bersama, entah kemana, tapi semoga bisa terwujud.

Orang kedua yang cukup seru diajak ngobrol adalah seorang bapak-bapak paruh baya, usianya sekitar 40 tahun ke atas. Katanya sih dia bekerja sebagai penulis buku dan sudah menerbitkan bukunya ke berbagai negara. Keliling ke berbagai negara adalah pekerjaan hariannya. Gue sempat terpukau dengan kata-katanya, “wahhh, keren banget ini orang!!!”.  Makin jauh obrolan kok yang terdengar dari tadi dia mempromosikan diri mulu ya.. Selalu ada “saya pernah…”, “saya akan…”, “saya begini…”, “saya begitu…” dan berbagai saya lainnya. Lama-lama gue bosan karena makin lama dia semakin terdengar begitu mempromosikan dirinya sendiri.  Begitulah perjalanan, selalu berhasil mempertemukan kita dengan berbagai karakter manusia.

Pukul 7.30 akhirnya kami memulai perjalanan hopping island di hari pertama. Tujuan awal adalah pulau Sebuku Kecil. Sesuai namanya, pulau ini berukuran kecil dan biasanya dijadikan tempat istirahat para nelayan yang habis melaut. Pantai ini memiliki pasir putih, namun sepenglihatan gue gak ada terumbu karang di sekitar pulau. Jadi kami menghabiskan waktu dengan berfoto sambil menikmati ombak di sini.

Setelah dari pulau Sebuku Kecil, kapal yang kami tumpangi melaju menuju Pulau Sebuku Besar. Di sini kami bisa menikmati keindahan bawah air Lampung. Varietas Arcophora mendominasi kawasan ini. Namun sayang, sebagian besar terumbu karang yang ada di sini mengalami pemutihan atau yang lebih dikenal dengan istilah coral bleaching. 

CAMERA
Coral Bleaching di mana-mana

Coral Bleaching adalah momok menakutkan bagi dunia air yang patut untuk kita waspadai, karena fenomena alam yang terjadi akibat suhu ekstreme ini tidak hanya mengakibatkan karang menjadi berwarna putih, tetapi juga menyebabkan karang mati secara perlahan. Coral bleaching sendiri terjadi karena alga zooxanthellae yang berasosiasi dengan inang (tubuh) terumbu karang memutuskan untuk keluar dari dalam tubuh. Biasanya sih karena suhu extreme lautan atau pemanasan global.

CAMERA
Aktivitas pariwisata ikut memperparah kondisi terumbu karang Indonesia

Tapi masalah terumbu karang kita gak hanya berhenti di situ aja lhoo.

Aktivitas manusia, mulai dari nelayan yang memancing dengan cara yang ekstreme, tambatan jangkar perahu nelayan, hingga pariwisata bawah air manusia mengakibatkan kerusakan parah bagi varietas bawah laut kita. Jadi memang benar adanya, bahwa manusia adalah predator terganas yang ada di muka bumi ini.

Setelah puas menjajaki pulau Sebuku Besar, kami pun berpindah ke Pulau Sebesi. Pulau ini adalah tempat kami menginap untuk satu malam. Pantai di pulau ini tak terlalu indah, malah cenderung tak terawat. Tempat kami menginap pun cenderung kurang nyaman, tapi ya sudahlah, yang penting jalan-jalan kan?

Fun fact about Sebesi Island adalah harga makanan di pulau ini masih MURAH BANGET!!!!!!! Sebutir buah kelapa muda hanya 10 ribu saja!!! Gorengan hangat enak dan gurih hanya seribu rupiah!!! Kopi hitam hangat dihargai dengan 3 ribu rupiah! Coba deh geser ke pulau mana saja, rata-rata pedagang akan mengambil untung beberapa kali lipat. Dan yang menyenangkan adalah warung di sini buka 24 jam!!! Bertukar cerita di pendopo pulau sambil menikmati kelapa muda menjadi aktifitas kami siang hari itu.

Sore hari nya kami pun bertolak menuju Pulau Umang-Umang. Pulau kecil di dekat Pulau Sebesi ini tidak berpenghuni. Pulau ini memiliki bebatuan yang tertata apik, membingkai pemandangan di sekeliling pulau dengan sangat indah. Jika melangkah di sekitar bebatuan kaki lo akan merasakan sensi licin bercampur geli. Hiiiiiyyyy… ada apaan ayooooo…  Jadi Pulau Umang-Umang ini terkenal dengan banyaknya timun laut atau teripang di sepanjang pantainya. Geser sedikit saja pasti ada kawanan teripang yang berdiam di antara tumpukan pasir atau batu.

CAMERA
View dari Pulau Umang-Umang

Ketika gue menaiki salah satu batu, gue malah sempat ketemu sama moray eel. Penasaran sih, kok bisa-bisanya si galak protektif ini ada di tepian pantai. Mungkin dia sedang ingin merenung, menikmati kesendiriannya.

CAMERA
Salah satu sudut di Pantai Pulau Umang-Umang

Hari pertama kami tutup dengan pelepasan lampion. Dari sekian banyak lampion, yang berhasil terbang cuma dua. Selebihnya jatuh ke laut, menjadi sampah. Gue pribadi cukup menyesalkan aktivitas yang satu ini, cuma nambah-nambah sampah lautan. Kenapa penyelenggara trip banyak menyajikan aktivitas ini ya? Permintaan pelanggan? Ahhh.. tetap saja ini adalah aktivitas yang paling menimbulkan rasa sesal hingga sekarang. Laut, maafkan gue yaaaa….

 

Advertisements

3 thoughts on “Magisnya Anak Gunung Krakatau (part 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s