From Gunung Kidul with Love

There is only one happiness in life – to love and be loved ♥

Happy weekend, folks!!!

Jadi tema perjalanan kali ini soal cinta-cintaan.

Bukan!

Bukan gue yang sedang jatuh cinta, kok!!!

Jadi ceritanya beberapa bulan yang lalu, salah satu produser (mbak Surya) di program gue menggelar resepsi pernikahan. Lokasi resepsi ada di Gunung Kidul, Yogyakarta yang tak lain dan tak bukan adalah kampung halaman produser gue. Satu tim diundang untuk hadir ke acara ini. Setelah seluruh perintilan transportasi siap, kami pun berangkat via jalur darat.

To be honest, gue baru dua kali ke Yogyakarta. Satu kali untuk kerjaan dan kali lainnya menghadiri acara pernikahan ini. Jadi sebelumnya gue memang belum pernah menjelajahi Kota Gudeg ini. Duuhh, kasian banget hidup gue!!!

Perjalanan darat Jakarta – Yogyakarta ternyata sangat melelahkan, sob! Walaupun tol Cipali (Cikopo-Palimanan) cukup membantu para pengguna jalan darat, karena akses yang jadi lebih cepat, tapi tetap saja bokong ini rasanya sudah rata dengan tempat duduk.

Perjalanan darat Jakarta – Yogya berbeda sekali dengan perjalanan darat di Pulau Sumatera (maklum referensi perjalanan jalur darat terjauh gue ya di pulau Sumatera, please don’t get bored of it). Kalau di Sumatera perjalanan darat biasanya didominasi jalur yang keluar masuk hutan. Di kiri dan kanan ada jurang besar yang menganga.

Hal ini sangat jauh berbeda dengan perjalanan Jakarta-Yogya yang gue lewati kemarin. Perjalanan banyak didominasi oleh rumah warga. Bahkan di tengah hutan Alas Roban, yang katanya dulu jadi sarangnya bajing loncat, banyak penjual es kelapa muda dan warung kopi yang menjajakan makanannya.

Bos gue sempat bilang, “Ini lho fan hutan yang paling menyeramkan di Jawa. Dulu orang-orang pada takut lewat sini kalau udah malam, banyak maling”. Gue menanggapinya dengan cibiran dan celetukan, “Hutan apa ini! Ini sih bukan hutan! Masa di hutan banyak rumah warga, banyak yang jualan!”

Mungkin faktor padatnya penduduk di Pulau Jawa yang memrubah wajah Alas Roban menjadi tak seseram image-nya di tahun 90-an dulu. Akhirnya gue menyaksikan dengan mata kepala gue sendiri, bahwa Pulau Jawa benar merupakan pulau terpadat di Indonesia. Bahkan hutan pun kini berubah menjadi pemukiman warga. Miris.

Sekitar pukul 3 dini hari kami sampai di rumah Mbak Citra, bos gue yang dengan sukarela menjadikan rumah orang tuanya sebagai tempat tinggal kami selama di Yogya. Setelah menenggak sebutir Sangobion, gue pun tertidur pulas hingga pagi datang menjemput.

Pagi itu kami disambut dengan sayur sop, tempe goreng yang masih hangat dan sambal yang dimasak langsung oleh nyokapnya mbak Citra. Delapan orang yang dihantui lelah selama perjalanan sebelumnya, spontan menyerbu hidangan yang membuat air liur menetes ini. What a good way to start your morning vibe, right? 

Setelah bersiap-siap, dandan dan lain sebagainya, sekitar pukul 11 siang kami berangkat menuju Gunung Kidul. Di sepanjang jalan banyak spanduk bertebaran yang memajang petunjuk arah, atau sekadar mempromosikan objek wisata Gua Pindul. Jelas ini memancing insting gue untuk jalan-jalan, tapi perjalanan kali ini untuk kondangan. INGET FAN!!! KONDANGAN!!!

Pernikahan Mbak Sur diadakan di alun-alun utama Wonosari, Gunung Kidul. Nuansa adat Jawa langsung terasa ketika memasuki pelataran parkir alun-alun. Kelompok gamelan, lengkap dengan penyanyinya yang anggun dan alat musik khas-nya menghibur para tamu undangan. Keluarga Mbak Sur dan Suami pun siap menyambut tamu yang hadir. What a beautiful wedding reception!!!

Tepat pukul 2 siang kami izin pamit. Kami pun langsung menuju ke wilayah pantai yang ada di Gunung Kidul. Mobil bergerak ke arah Pantai Baron, yang katanya merupakan pantai yang paling terkenal di Gunung Kidul. Namun ketika sampai di pelataran parkir, ada terlalu banyak orang di lokasi. Terlalu ramai, gak asik, gak seru. Begitu pemikiran teman-teman yang lain.

Well, ketika pergi bersama dalam satu rombongan suara mayoritas memang harus jadi yang utama. Walaupun lo punya segudang planning di dalam kepala, tapi tetap saja the group thought comes first. 

Kami pun berjalan semakin jauh, entah menuju arah mana. Makin lama jalanannya semakin kecil, berkelok dan curam. Tak ada tanda jalan, tak ada petunjuk arah. Setelah beberapa kali bertanya kepada warga, pantai terdekat dari lokasi kami adalah Pantai Ngrenehan. “Jaraknya 4kilo lagi kok, gak jauh” kata seorang bapak yang kami tanyai. Bensin mobil yang tinggal satu strip lagi membuat hati semakin was-was. Takut bensin habis di pinggir jalan, di tengah hutan yang kami tak tahu ada dimana.

Tapi benar saja, tak berapa lama spanduk yang bertuliskan Pantai Ngrenehan mulai terlihat.Tak sampai 5 menit kami sudah sampai di lokasi. Pantai ini berbentuk seperti seperti sebuah teluk kecil. Di kiri kanan ada tebing dan batu-batu besar yang gagah menahan ombak yang cukup kencang.

faniauliarini_missmotahari5
Captured by Azhar

Air lautnya termasuk agak tenang jika ditarik lurus sejauh 10 meter dari bibir pantai. Tapi kalau sudah lebih dari itu, hmmmm siap-siap saja keseret arus yang kencang! Itu sebabnya selalu ada penjaga pantai yang berasal dari warga sekitar yang mengawasi para pendatang yang berenang di sini. Airnya biru, pantainya berpasir putih kekuningan, sebagian besar pantai dijadikan lahan parkir bagi perahu-perahu nelayan. Ada puluhan perahu yang ditumpuk di sekitar pantai.

Seorang warga lokal menghampiri gue dan menawarkan untuk berkeliling dengan perahunya selama 20 menit. Hanya 20 ribu rupiah per orang. Gue dan beberapa teman tertarik untuk ikut mencoba menjelajahi pulau ini. Meski baju kondangan cukup menyulitkan ketika gue harus naik ke atas perahu, but it seems I just really don’t care. Gimme some beaches and I won’t be a grumpy granny. Yep!!! Gue semureh itu ketika berurusan dengan pantai.

faniauliarini_missmotahari-3
Ngerenehan Beach – Captured by Azhar

Ombak lautan Gunung Kidul sangat besar. Maklum saja pantai ini berhadapan langsung dengan Samudra Hindia. Mau ke Australia gratis? Silahkan nyemplung dari sini dan mulai berdoa banyak-banyak supaya bisa sampai dengan selamat!Dari atas perahu gue bisa lihat gimana gagahnya tebing-tebing di sekitar pantai menahan derasnya gulungan ombak. Mungkin kalau kontur pantainya tidak berbatu, bisa jadi Gunung Kidul menjadi destinasi wisata bagi para surfer penikmat ombak.

faniauliarini_missmotahari4
Indonesia itu Indah!!!

Dari tengah lautan dengan gulungan ombak besar nakhoda perahu menunjukkan kami sebuah pantai yang memiliki pura kecil. Pantai ini tepat berada di sebelah Pantai Ngrenehan, tempat kami singgah tadi. Tak sampai 15 menit perahu sudah berbalik menuju pantai Ngerenehan lagi dan trip kami pun usai.

Geli rasanya kalau mendengar iming-iming si abang yang menawarkan jasa perahu tadi, “nanti akan kita bawa lihat pulau”, “lama kok, sekitar 20 sampai 25 menit”. Yaa, mungkin memang begitu strategi pemasaran masyarakat setempat. Buat gue ini udah lumayan banget, karena udah lama banget gue gak ketemu air asin. ANAK DUGONG KANGEN RUMAH!!!

Terimakasih lho Gunung Kidul untuk short escape yang menyenangkan ini. I’ll definitely come back and digging your beauty deeply. So here’s some beauty from Gunung Kidul with love!!!

faniauliarini_missmotahari
The mystical trees

faniauliarini_missmotahari2.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s