Nusa Penida: The Land of Hello

Bali is more than a place..

It’s a mood, It’s magical..

It’s  a tropical states of mind..

#balifixblog

It’s been a long time after my last post. It’s a little bit awkward to let my fingers dance on the keyboard and write every single memories I’ve got about the island of Gods. Bali. Oh… You should falling in love with this island. Everyone should. 

Beberapa minggu yang lalu, gue dan suami, yess!! SUAMI!!! I’m a married woman now!!! Okay, let’s back to the main topic!

Beberapa minggu yang lalu gue dan suami memutuskan untuk jalan ke Bali. It’s been a year after my last visit to Bali and I miss this island so much.

Entah kenapa, tapi Bali selalu berhasil bikin gue jatuh cinta. Jatuh cinta sama aroma dupa-nya, jatuh cinta sama pendatang-nya jatuh cinta sama budaya-nya, jatuh cinta sama laut-nya, jatuh cinta sama vibe yang dimiliki tiap sisi pulau ini, jatuh cinta sama semuanya. Bali begitu sulit untuk ditolak.

Salah satu tujuan perjalanan kita kali ini adalah Pulau Nusa Penida. Pulau yang eksistensinya sedang naik daun, bersamaan dengan dua saudara dekatnya, yaitu Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan. Gugusan pulau yang dijuluki The Golden Egg of Bali, dijadikan tujuan wisata oleh pengelana lokal maupun mancanegara.

Keterbatasan jatah cuti, membuat gue dan suami hanya bisa mengunjungi Nusa Penida. Kami hanya punya satu hari penuh untuk menikmati eksotisme yang ditawarkan pulau ini.

Berbekal risetan blog sana sini, kami memesan dua tiket speedboat Maruti bolak balik. Tiket Maruti sekali jalan dibanderol seharga 75.000 rupiah untuk wisatawan lokal dan  sekitar 200.000 rupiah untuk wisatawan mancanegara.

Cara mendapatkan tiketnya pun cukup gampang. Lo tinggal datang ke Pantai Sanur pagi-pagi, atau sehari sebelumnya, dan pesan tiket on the spot. Loket penjualan tiketnya berjejer di sepanjang pantai Sanur, kelihatan banget deh pokoknya dari parkiran motor. Lo juga bisa milih mau pakai speedboat apa, tinggal disesuaikan dengan kebutuhan lo, karena ada banyak pilihan di sana.

Ngomongin soal harga tiket, gue dan suami sempat berdebat mengenai jurang harga antara wisatawan lokal dan mancanegara. Cukup banyak turis asing yang mengurungkan niat untuk pergi karena harga tiket yang cukup mahal.

“Karena mereka dari luar, makanya harus bayar lebih mahal, boo.. Kan dollar mereka lebih mahal dari rupiah kita”.

“Mereka harus bayar lebih mahal, mungkin sebagai wujud subsidi untuk masyarakat lokal. Makanya kita bayar lebih murah dan mereka lebih mahal”.

“Masyarakat dapat untung dari sana! Kan yang banyak kesana justru orang asing, kalau lokal mah seasonal, boo.. gak tiap waktu ada orang Indonesia yang kesana..”.

Itu lebih kurang berbagai statement yang sempat tercetus dipikiran kita. Bukannya kontra sih pada kebijakan range harga yang lebih mahal wisatawan asing, cuma perbedaan harganya yang cukup jauh cukup bikin hati miris sih.

Anyway, pukul 08:00 WITA speedboat yang kita tunggu datang juga dengan membawa penumpang dari Nusa Penida. Lima belas menit kemudian kami sudah dipersilahkan naik ke perahu, sekitar pukul 08.30 tepat perahu pun sudah bertolak kembali menuju Nusa Penida. Inilah salah satu alasan kenapa kita milih Maruti, karena kapalnya on time!

Di setiap blog yang gue baca selalu nyebutin kalau perjalanan menuju Nusa Penida hanya butuh waktu 30 menit, tapi kita baru nyampe di sana setelah 40 menit perjalanan. I’m not that freak about time and everything, but it’s just a humble information. So, yeah.. 

Salah Satu Sisi Pelabuhan Toya Pakeh
Salah Satu Sisi Pelabuhan Toya Pakeh

 Maruti punya pelabuhannya sendiri dan begitu sampai di sana lo bakal langsung bisa nemu pangkalan ojek yang menyewakan sepeda motor. Di Nusa Penida penyewaan sepeda motor bisa terbilang langka. Harganya pun lebih mahal kalau dibandingkan dengan yang ada di Bali. Kita memutuskan untuk sewa motor di pangkalan ojek ini seharga 100 ribu rupiah untuk masa pakai sampai keesokan harinya.

Destinasi pertama yang kita tuju adalah Pantai Atuh. Lokasi terjauh dari planning perjalanan kami di Nusa Penida. Kalau berdasarkan GPS, pantai ini bisa dituju dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam. View yang ditawarkan di sepanjang perjalanan pun sangat menakjubkan!

Above them all, yang bikin gue makin takjub dengan pulau ini adalah masyarakatnya!! Tiap ketemu penduduk lokal, terutama anak-anaknnya mereka pasti bakal nyapa dengan kata “hello!!”. 

Iya!!

Mereka seramah itu!! Gue sampai mikir this is the land of Hello! Semuanya ramah-ramah banget!!!

Gue dan suami sempat nyasar ketika menuju ke Pantai Atuh ini. Jalan yang rusak dan minimnya papan penunjuk arah membuat kami harus berputar-putar di lokasi yang sama. Sampai akhirnya kami bertemu dengan rombongan remaja asal Bali yang juga baru pertama kali main ke Nusa Penida dan mereka juga sama-sama nyasar!!!

Kita mutusin untuk ngikut rombongan ini. Biar sama-sama nyasar!!! Cuma karena terlalu lama nyasar, kita akhirnya banting stir ke arah Pulau Seribu. Ternyata oh ternyata, Pantai Atuh bersebelahan dengan spot ini, namun di tikungan yang berbeda. Karena udah terlalu sensi dengan Pantai Atuh, kita semua milih untuk lanjut ke Pulau Seribu aja. Udah bete duluan dengan si Atuh!!! (nyasar bikin baper, euy!!!)

Gue paham sih, pasti banyak yang mikir sayang banget udah jauh-jauh ke Penida tapi malah gak nyempetin diri main ke Atuh. Gue pun mikir hal yang sama, tapi emang dasarnya kita cuma punya waktu seharian penuh untuk eksplore Nusa Penida. Jadi mau ga mau harus ada yang dikorbanin.

Untuk bisa masuk ke Pulau Seribu kita dikenakan biaya 15.000 untuk 2 orang dan 1 sepeda motor. Untuk wisatawan asing? Lagi-lagi harganya bisa dua kali lipat!

Penampakan Pulau Seribu, Nusa Penida
Penampakan Pulau Seribu, Nusa Penida

Dalam rombongan yang sama-sama nyasar tadi, kami sempat berkenalan dengan Michael dan seorang temannya yang gue lupa siapa namanya. Michael fasih berbahasa Indonesia. Doi udah tinggal di Bali selama 20 tahun!!! Bule asal California ini mengaku jatuh cinta dengan Bali.

“Terlanjur kerasan, makanya saya ga mau pulang!”. 

Berkat fasih berbahasa Indonesia dan mengaku punya KTP Bali, Michael dan temannya hanya dikenakan tarif wisatawan lokal!!! Harganya bisa banget digoyang ternyata!!! (asikkk, digoyaaannngg!!!)

Untuk menuju the best spot lo harus menuruni tangga yang terjal. Sendal gunung is a must!!! Kalau enggak hati-hati mungkin lo bisa tergelincir! Serem euy!!!

Setelah Turunan Terjal yang Menguras Emosi
Pulau Seribu!!!

Tapi pemandangannya juara sih!! It’s worth every single pain in your leg and ass!! Trust me!!! Kayak versi mini-nya Raja Ampat!!

Oke mungkin agak hiperbolis, tapi beneran deh tempat ini indah banget!!!

Di sini tersedia rumah pohon yang bisa lo sewa seharga 300.000 rupiah. Sejauh ini yang biasanya nyewa kabin adalah wisatawan asing. Sunrise nya sih juara!!

“The sunrise was epic! I woke up this morning and captured all the beauty”, setidaknya itu yang dikatakan Mark, bule brondong asal Skotlandia yang nginep di salah satu kabin bareng temennya.

Puas menikmati setiap inci keindahan yang ditawarkan Pulau Seribu, gue dan suami memutuskan untuk bertolak ke spot berikutnya, Angel’s Billabong dan Broken Beach. Kami berpisah dari rombongan Michael yang katanya masih ingin berlama-lama di Pulau Seribu. Gue sih juga pengennya gitu, tapi kami hanya punya satu hari untuk menikmati Nusa penida. It’s the risk tho!

Kami memang mutusin untuk skip ke Pantai Kelingking, karena pertimbangan waktu yang mungkin gak memadai. Mungkin di lain hari. Pasti!

Perjalanan menuju Broken Beach dan Angel’s Billabong kami tempuh dalam 1,5 jam. Jalanannya rusak parah!! Bikin pantat pegel luar biasa!

Sesampainya kami hanya perlu bayar parkir 5000 rupiah saja. Pemandangannya? Gak usah gue ceritain deh, juarak!!! Broken Beach dan Angel’s Billabong letaknya bersebelahan, jadi gak sampai 5 menit jalan lo udah bisa pindah ke spot berikutnya.

BROKEN BEACH
BROKEN BEACH

Gue sempat lihat ada police line di dekat Angel’s Billabong. Usut punya usut katanya udah ada beberapa orang yang meninggal di sini, karena tersapu ombak!!!

Angel’s Billabong memang layaknya sebuah infinity pool. Di pinggir tebing ada ombak besar yang bisa kapan saja menyapu sisi dalam kolam, siap menyeret siapapun yang gak siap dengan kuatnya arus laut!

Jadi silahkan saja berenang di kolam cantik ini, tapi inget lo harus hati-hati!!! Jangan berenang terlalu ke pinggir, walaupun gue tau sih pasti bakal epic banget kalau punya foto di sisi ini, tapi tetep nyawa lo lebih berharga dari koleksi instagram kan?

Suami cuma ngijinin gue untuk berenang selama 30 menit di sini dan cuma boleh di sisi dalam kolam. Naluri dugong gue gak cukup puas, tapi gue ga mau ngelawan suami, kan istri sholehah. Azik!!!

Tepat jam 4 sore kami meninggalkan Angel’s Billabong. Badan rasanya mulai rontok, tapi rona bahagia gak bisa disembunyiin. Kami memutuskan untuk pulang ke hotel. Oiyaaa, kita nginep di Crystal Bay Beach Bungallow, and yes, Crystal Bay Beach is our final destination!!!

Jam 05:35 sore kita nyampe di penginapan, walau GPS berkata hanya butuh 35 menit perjalanan, tapi tetep molor karena jalan yang rusak. Gue jatuh cinta sih sama hotel ini. Pakai kelambu-kelambu romantis, duh honeymoon-able deh!!! Kamarnya cantik, pelayanannya okelah, walau makanannya sih mahal!

 Tapi sepertinya memang semua makanan di Nusa Penida agak lebih mahal dari Bali deh.. Usut punya usut, ini dikarenakan masyarakat Penida memenuhi kebutuhan pangannya dengan mendatangkannya dari Bali.

Lima belas menit ngelurusin kaki, gue dan suami langsung jalan lagi ke Crystal Bay Beach. Cuma butuh waktu lima menit dan kita udah nyampe di pantai berpasir putih ini.

Crystal Bay Beach
We’re so in love with Nusa Penida

Crystal Bay Beach adalah lokasi untuk lo penggila diving. Apalagi yang pengen ketemu mola-mola. Di musim yang tepat banyak yang bisa ketemu sama si sun fish ini. Selain itu pantai ini dikenal sebagai spot sunset tercantik di Nusa Penida!!!

Kami menghabiskan sore itu dengan penuh suka cita. Walau lelah, namun semuanya terbayar lunas!! Nusa Penida is the land of Hello, the land of beauty, the land that I called as a never ending pleasures! Till we meet again!

Sunset Nusa Penida
Crystal Bay Beach Sunset – Captured by my Hubby

Sedikit tips and trick selama di Nusa Penida:

  1. Kalau lo nyewa motor, usahakan gak jalan malam hari ya.. Karena penerangannya masih minim banget dan di beberapa lokasi jalannya cukup rusak! Walau katanya aman, tetep aja bahaya kalau ada apa-apa di jalan.
  2. Cari penginapan di tengah kota! Kalau bisa di sekitar pelabuhan Toya Pakeh. Karena ada banyak pilihan makanan dan penginapan yang low budget!
  3. Pom bensin ada di dekat pelabuhan Toya Pakeh ya.. Harga bensin normal kok, karena dikelola Pertamina. Jadi begitu dapet motor sewaan langsung ngisi bensin aja, karena perjalanan lo akan cukup jauh.
  4. Siapin uang kecil yang banyak yaa.. Ini dibutuhin untuk bayar parkir, uang masuk objek wisata dan beli cemilan.
  5. Jangan lupa minum air putih yang cukup, pakai sunblock, pakai pakaian dengan bahan katun yang nyaman dan jangan buang sampah sembarangan!!!

    Till we meet again!!!
    I left a part of my heart in Nusa Penida
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s