Stone Garden dan Gua Pawon; Wisata Batu Purba

Stone Garden dan Gua Pawon

There is pleasure in the pathless woods, there is rapture in the lonely shore, there is society where none intrudes, by the deep sea, and music in its roar; I love not Man the less, but Nature more – Lord Byron.

Setelah sehari sebelumnya kami menghabiskan waktu di Taman Hutan Raya Juanda dan Tebing Keraton (Bandung Selalu Punya Cerita). Pada hari kedua di Kota Bandung kami memutuskan bergerak agak jauh ke barat. Jauh dari kumpulan cafe unik. Jauh dari padatnya Kota Bandung di long weekend hari itu.

Tepat pukul 9 pagi kami berangkat menggunakan sepeda motor dari kawasan Buah Batu. Kami meluncur menuju kawasan Padalarang. Hari itu jalanan cukup ramai, meski tak sampai menimbulkan kemacetan. Perut pun sudah terisi dengan sebungkus nasi uduk. Jadi sejauh apapun perjalanan ini nantinya, semuanya sudah aman terkendali.

Stone Garden Geopark ternyata tak sedekat estimasi yang ditampilkan oleh Google Maps. Jika dilihat dari Maps kami diperkirakan bisa menempuh lokasi tersebut dalam waktu 1 jam. Namun kenyataan berkata lain, setelah hampir 2,5 jam perjalanan kami baru sampai di lokasi ini. Pantat rasanya sudah rata dengan jok motor! Punggung sudah pegal sekali rasanya!!!

Ketika masuk di kawasan wisata ini kami sempat dicegat oleh warga sekitar yang meminta 5 ribu rupiah sebagai biaya masuk. Setelah menyerahkan sejumlah uang yang diminta, sang penjaga berbaju kaos oblong langsung menyuruh kami masuk tanpa menyerahkan bukti tiket masuk atau tanda masuk apapun. Mungkin memang masih belum ada tiket masuknya, begitu isi pikiran kami waktu itu.

Ketika kami masuk lebih jauh, akhirnya pelataran parkir kawasan Stone Garden terlihat juga. Di lokasi parkir kami diserahkan bukti parkir oleh bapak-bapak yang sigap mengatur parkir.

“Itu bukan tempat bayar tiket masuk neng… Tiket masuk mah bayar di dalam.. Itu mah preman sini, suka mintain uang emang.. Untung gak banyak..” ungkap bapak juru parkir ketika gue tanya soal aturan bayar parkir di gerbang depan.

Emang dasar ya di Indonesia. Sistem PunLi alias Pungutan Liar begini memang belakangan banyak terjadi di berbagai kawasan wisata. Modus yang dikemukakan si juru pungli pun variatif. Mulai dari biaya tiket masuk, biaya kebersihan dan keamanan lokasi wisata dan berbagai wacana lainnya!!!

Gue gak komplain sih soal jumlah 5 ribunya ini. Tapi ini bukan budaya yang baik untuk dikembangkan!!! Kalau semua dana memang benar digunakan untuk perbaikan dan perawatan mungkin sah sah saja, tapi kalau uang pungli ini dihabiskan untuk beli rokok, duhh kok kayaknya gue ga rela ya!!! Budaya pungli tak bertanggung jawab ini harus sama-sama kita cermati sebagai aksi yang bisa merusak pariwisata di Indonesia!

Balik ke perjalanan, selepas parkir dan terima tiket parkir, kami langsung masuk menuju lokasi  wisata Stone Garden Geopark. Di sisi kanan jalan masuk terlihat loket resmi pembayaran untuk masuk ke lokasi wisata. Gue lupa berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk masuk kesini, tapi yang jelas gak mahal kok. Gak sampai 10 ribu rupiah per orang.

Stone Garden Geopark
Stone Garden Geopark

Gue datang bersamaan dengan rombongan salah satu universitas yang datang untuk studi lapangan. Sepertinya sih mereka dari jurusan Geologi, karena sang dosen berkali-kali membahas soal struktur batu yang ada di lokasi ini.

Taman Batu Koral Purba, Taman Sejarah yang Unik
Taman Batu Koral Purba, Taman Sejarah yang Unik

Memang kabarnya bebatuan yang ada disini cukup unik, karena strukturnya mirip dengan batu koral yang ada di lautan. Menurut sejarah, kawasan ini memang sebelumnya merupakan lautan dangkal yang banyak dipenuhi koral. Namun akibat gempa bumi yang cukup dahsyat, lautan ini terangkat dan berubah menjadi perbukitan.

Koral-koral yang ikut terangkat lambat laun bertransformasi menjadi bebatuan purba yang saat ini bisa dijumpai di Stone Garden. Ukurannya pun bervariasi. Ada yang besar tinggi menjulang, ada pula yang kecil layaknya batu kerikil.

View yang ditawarkan kawasan ini tak perlu diragukan. Ciamik! Entah kenapa bebatuan yang ada disini begitu fotogenik. Setiap sisi selalu menarik untuk diabadikan.

Batu Berbagai Ukuran Ada Disini!
Batu Berbagai Ukuran Ada Disini!

Setelah puas mengeksplorasi kawasan ini, kami pun bertolak menuju Goa Pawon. Lokasinya tak terlalu jauh dari kawasan Stone Garden. Tak sampai 5 menit kita sudah disambut dengan gerbang berwana hitam yang bertuliskan “SELAMAT DATANG DI GUHA PAWON”.

Salah Satu Sudut Unik Goa Pawon

Mungkin karena referensi jalan-jalan ke goa kami masih cukup minim, sehingga kadar norak kami sepertinya saling berteriakan ketika kami memasuki sudut tergelap goa. Ada rasa senang, merinding dan banyak lagi yang kami rasakan ketika berada di goa ini.

Di goa ini juga ada situs sejarahnya lho..

Ada tulang-tulang manusi purba di salah satu sudut goa.

Percaya gak percaya sih katanya masih banyak orang yang datang kesini untuk minta “petunjuk”. Budaya mistis memang masih lekat ya dengan kehidupan masyarakat kita.

Meski aroma kotoran kalelawarnya cukup ketara, namun view yang ditawarkan begitu menawan, sehingga semuanya teralihkan. Sayangnya batrai gadget yang kami punya habis ketika kami berada disini, sehingga tak banyak foto yang bisa diabadikan.

Stone garden dan Gua Pawon benar-benar sebuah perjalanan yang memberikan kami banyak pelajaran yang menarik.

Perjalanan Seru Selama 2 Hari di Bandung Bisa Dilihat Disini:

Let’s get in touch in Instagram with me as @missmotahari and @weekendtribe

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s